Menjadi Manusia

Dulu waktu saya sekolah, di pelajaran Biologi diajarkan bahwa manusia termasuk dalam Kingdom Animalia. Termasuk dalam genus Homo, genus Kera Besar, menyusui, dan bertulang belakang. (Nyontek-nyontek Wikipedia). Sebenernya bukan mau ngomongin Biologi sih. Tapi setuju aja, orang guru bilang gitu, lu bisa apa. Manusia emang seperti hewan. Sama seperti hewan dalam kebutuhan-kebutuhan biologis, cuman emang terlihat lebih beradab aja. Hewan yang berperadaban.

Hewan punya naluri bertahan hidup. Mereka selalu mencari sumber daya di muka bumi untuk bertahan hidup. Kalau ada makanan ya dimakan. Mungkin kalau di muka bumi cuma ada bison dan padang rumput, tidak ada mekanisme alam berupa rantai makanan: ada predator, ada yg dimangsa, dan penghasil makanan, niscaya rumput akan habis dimakan bison.

Jadi secara umum, hewan mempunyai perilaku menghabisi sumber daya. Kalau dibalik, perilaku menghabisi sumber daya, dalam bentuk apapun dengan cara apapun, adalah hewani.

Homo sapiens ternyata juga punya perilaku yang sama ya, menghabisi sumber daya. Malahan bisa lebih parah. Karena menghabisi sumber daya lebih variatif, masif, dengan teknologi yang kreatif dan inovatif. Jadi Homo sapiens memang benar-benar hewani. Mungkin karena mereka bangga termasuk dalam anggota kerajaan hewan, Kingdom Animalia.

Perilaku konsumtif Homo sapiens dari yang paling norak sampai yang paling keren, paling udik sampe paling canggih, ngopi pinggir jalan sampai nongkrong di tempat hitz, ngabisin beras sampe ngabisin isi perut bumi, ya itu hewani. Apalagi kalau ganggu tetangga dan kucingnya.

Manusia sejatinya ada di muka planet unicron eh bumi ini untuk memakmurkannya (khalifah/caliph). Makmur itu ya membuat planet ini jadi tempat yang lebih baik untuk ditinggali makhluk hidup dan transformers. Eh engga, biarin transformers di planetnya sendiri. Lagian telat banget sih baru bahas transformer.

Membikin bumi jadi tempat lebih baik kan beda sama menghabiskan sumber daya. Emang sih untuk tujuan itu butuh sumber daya. Tapi kan seperlunya aja. Petani makan nasi sepiring biar kuat panen beras buat sekampung. 

Jadi perilaku untuk membuat bumi jadi lebih baik: menanam untuk makanan banyak orang, mengajar, membangun jalan, membuat kereta, mengepel teras bandara, masak yang uenak, membuat karya seni, membantu yang lemah, apapun adalah perilaku-perilaku manusiawi. Ini yang membuat Homo sapiens menjadi manusia, jika mereka berperilaku manusiawi. Mengangkat derajat Homo sapiens menjadi berbeda dengan anggota kerajaan hewan yang lain.

Sebagai Homo sapiens sebaiknya tidak sesumbar dan merasa manusia mulia. Karena bisa aja kita tidak ada di muka bumi sebagai manusia, kalau yang dilakukan masih bersifat hewani. Meskipun kerjaan ngetop (emang kerjaan ngetop itu apaan?), duit banyak, tapi trus duitnya dipakai macam-macam untuk menghabisi sumber daya. Kan kalau duit banyak, jadi punya privilege lebih buat menghabisi sumber daya. Menghabisi sumber daya kan mirip sama bison.

Nanti aja kalau udah merasa semua perilaku hidup adalah perilaku manusiawi, baru ngaku manusia. Jadi punya kerjaan ngetop bukan cuma biar banyak duit dan ngabisin beras. Gitu aja koq repot!

Kesederhanaan adalah dasar utama dari segala moral dan kebajikan utama manusia. Tanpa kesederhanaan, manusia tidak ada bedanya dengan binatang – Napoleon Bonaparte

Tanpa rasa menghormati, apa bedanya manusia dengan binatang? – Konfusius

Ditulis oleh Homo sapiens ngantuk abad 21 yang belajar manusiawi.