‘Jangan Bajak Karyaku’

Sekarang di jaman serba digital memang susah. Susah terutama buat orang-orang yang punya karya dan bisa disimpan dalam format-format digital. Banyak karya seni, terutama lagu dan notasi musik bisa dibajak seenaknya.

Ah sedih, punya karya bersusah payah dibajak begitu saja. Eh, tapi coba lihat lagi.

Saya teringat dulu ada yang menasehati saya: kalau kita dirugikan orang lain, boleh jadi kerugian itu sebenarnya bermula dari diri kita sendiri.

Jadi begitu. Ya, rasanya bisa jadi begitu. Misalnya seorang musisi membuat rekaman sebuah lagu. Rekaman ini pastinya melibatkan banyak komponen, manusia dan non-manusia. Manusianya bisa jadi penjaga studio rekaman, insinyur audio, tukang satpam studio, sampai sopir angkot yang mengantar ke studio. Non-manusia misal alat-alat musik, mikrofon, komputer, sampai angkot buat transportasi.

Nah komponen non-manusia ini yang punya celah. Celah yang membuat seorang musisi melakukan pembajakan dalam proses rekaman. Ya karena sekarang ini banyak perangkat lunak komputer yang membantu proses pembuatan musik mulai dari menulis notasi hingga pengolahan audio.

Cetarrrr(apaan nih), perangkat lunak apa yang digunakan untuk menulis notasi lagu? Perangkat lunak apa yang digunakan untuk pengolahan audio rekaman? Perangkat lunak apa yang digunakan untuk desain grafis sampul album? Sampai lebih jauh lagi, sistem operasi apa yang digunakan untuk menjalankan semua piranti lunak itu?

Apakah perangkat-perangkat lunak yang digunakan untuk produksi dan sangat rentan dibajak itu sudah diperoleh dengan jalan legal?

Eh, memangnya kalau berhenti menggunakan piranti-piranti tidak legal untuk produksi, orang-orang juga akan berhenti membajak karya yang dihasilkan? HAHAHA, ya belum tentu.

Setidaknya:

1. Mendorong orang lain tidak membajak dengan memulai dari diri sendiri.

2. Karya yang membuat dapur mengepul itu memang harus selegal-legalnya dan sehalal-halalnya kan?

3. Silahkan alasan-alasan lain sesuai HATI NURANI… 😀