Kata-kata Tidak Penting

  • Bekerja untuk mencari penghidupan atau karena takut mati? Takut mati membuat kita bergantung pada yang lebih kuat, semakin kuat dan stabil tempat bergantung, semakin kita merasa aman. Sedangkan bekerja untuk mencari penghidupan akan membuat kita semakin kuat. Jangan lupa bahwa kita tidak boleh bergantung pada siapapun, kecuali Allah!
  • Seorang pianist yang berlatih hingga larut malam tidak selalu berarti dirinya gila kerja. Bisa jadi karena ingin menenangkan diri, biar bisa tidur lelap. Ingat, pengalaman hidup manusia berbeda-beda.
  • Kadang ga perlu jauh-jauh membahas sekuler sampai ke tatanan politik. Numpuk baju di lemari dan banyak yang jarang dipakai itu juga udah sekuler, memisahkan urusan agama dan urusan pakai baju.
  • …(akan di-update)
Advertisements

Ngaku-ngaku Passion

Tokoh IT Indonesia favorit saya, Onno W. Purbo pernah bilang, menjadi ahli itu gampang, yang sulit adalah mencari apa yang disuka. Menemukan passion itu sulit.

Banyak orang apalagi remaja-remaja yang suka sama suatu hal dan jadi menolak untuk suka sama hal lain. Seperti murid-murid sekolah yang suka suatu pelajaran misal matematika, jadi males-malesan belajar pelajaran sejarah yang tidak disuka.

Kalau cuma sekilas seperti itu jadi susah membedakan orang yang suka aja sama yang suka sekaligus passionate. Padahal menurut saya, passion itu lebih luas daripada menyukai.

Passion harus ditemukan melalui berbagai percobaan terhadap banyak hal yang mungkin akan jadi passion. Misal saya nyoba suka komputer, nyoba olahraga, nyoba bisnis, dll. Dan coba-coba ini harus sampai tahap yang cukup dalam. Artinya gabisa kita cuma tau kulitnya saja kemudian kita sok tau kalau kita suka hal itu atau tidak. Misal kalau mau suka basket, harus nyoba sampai ikut pertandingan. Kalau nyoba main biola harus sampai konser. Kalau mau suka ngoding harus sampai jadi satu project. Dan ini baiknya banyak dilakukan di usia muda, mumpung masih muda, ye iyelah.

Walau gimanapun nantinya bekerja sesuai passion pun tidak jadi membuat kita selalu mengerjakan hal-hal menyenangkan dan terasa mudah. There is no such easy job! Tapi kalau sudah passion, kita ga akan keberatan mengerjakannya walaupun susah. Ya, walaupun susah, kita masih mau mati-matian mencapainya. Karena kita merasa itu memang berharga dan setimpal dengan kesulitan yang harus dilewati. Kata siapa latihan biola selalu menyenangkan? NO. 

Saya pernah kok nangis sehabis suatu lesson, nangis 30 menit sebelum naik panggung, dan mual di panggung karena takut main karya susah.

Itulah mengapa mencoba-coba menemukan passion harus cukup dalam, tidak bisa kulitnya saja. Harus sampai tau suka dukanya. Dan terasa susahnya. Kalau susah masih mau lanjut apa engga.

Biasanya juga selain suka, orang juga akan nemu nilai-nilai (value) dari sesuatu yang dipilihnya. Misalnya orang suka masak karena ingin orang lain merasakan makanan yang enak, sampai orang yang sakit yang males makan jadi mau makan. Bahkan menurut saya seniman sekelas Sujiwo Tejo menjadi seniman karena ingin memahami dan memaknai kehidupan ke level yang lebih tinggi.

Budaya ‘Sound System’

Ada pertanyaan yang hinggap di kepala. Jaman dulu kala, ketika manusia belum punya yang namanya sound system atau pengeras suara, pagelaran wayang kulit itu seperti apa? Suara ki dalang bisa didengar oleh semua penonton apa tidak? Suara gamelannya bagaimana? Apa dulu pagelaran di dalam ruangan saja? Ada ga ya penelitian tentang ini.

Kalau menurut pengetahuan bodoh saya, suara gamelan itu kan cukup keras ya. Kapan hari pernah main di orkestra simfoni bareng gamelan. Gamelan kedengaran oke. Berarti mestinya tanpa pengeras suara, suara gamelan bisa terdengar.

Mestinya juga, tanpa pengeras suara elektronik, suara dalang juga bisa didengar. Nyatanya mbah-mbah kita ngerti-ngerti aja cerita wayang. Lagipula kalau suara dalang sampai tidak kedengaran ya pagelaran wayang jadi seni pertunjukan yang tidak bisa dimengerti. Apa mungkin dulu ada alat bantu pengeras suara analog.

Begitu juga sinden juga pasti terdengar. Apalagi secara komposisi, sinden sering (selalu?) menyanyi diiringi suara gamelan yang sirep (piano kalau dalam aturan dinamika musik).

Mungkin karena populasi semakin banyak, maka penonton wayang juga makin banyak. Makanya ketika ada pengeras suara elektronik, pagelaran wayang segera mengadopsi. Apalagi pagelaran diselenggarakan di lapangan terbuka.

Menurut pengamatan saya yang seadanya, pengadopsian pengeras suara ini nyatanya ga cuma di pagelaran wayang. Tapi di banyak tempat di berbagai bidang lain. Di tempat-tempat ibadah, auditorium, sampai rapat di ruangan yang ga besar saja kadang orang pakai pengeras suara. Saya kurang tau ini di Indonesia saja atau di negara-negara lain juga begini. Tapi orang-orang di barat masih mempertahankan tradisi musik yang tidak pakai pengeras suara.

Kenapa ya, apa karena kalau suaranya keras itu efeknya jadi lebih dahsyat, lebih wow, dan jadi lebih didengar orang. Atau malah karena kita gumun sama alat ini makanya pingin memakai.

Padahal tidak semuanya kalau pakai pengeras suara akan jadi lebih efisien. Suara lebih keras tidak selalu jadi lebih jelas. Apalagi kalau sound nya murahan.

Kalau orang sedang ngomong di ruangan yang tidak besar berisi cuma 60 orang dan pakai pengeras suara justru akan kurang dihargai. Karena yang ngomong tidak sadar kalau ada orang yang ngobrol. Ya ga sadar, karena suaranya sendiri keras banget. Beda kalau tidak pakai pengeras suara. Satu orang ngomong yang denger akan mendengar sungguh-sungguh karena suaranya cukupan, kalau tidak memperhatikan ya tidak kedengaran. Juga kalau ada pendengar yang mengobrol, bisa gampang sekali mengganggu pendengar lain, bahkan mengganggu yang ngomong. Jangan-jangan kita kurang bisa menghargai orang ngomong juga karena mikir, “Halah, kan suara yang ngomong keras, kalau kita ngobrol ga akan ganggu orang lain dan ga ketahuan sama yang ceramah” dan kebawa jadi kebiasaan di mana pun, ngobrol ketika ada orang ngomong.

Apalagi kalau sudah urusan bunyi-bunyi instrumen tradisional dan suara manusia. Suara memang jadi keras pakai pengeras, tapi kualitasnya bisa jauh turun. Suara jadi jauh dari alami. Tapi mungkin karena sering seperti ini, telinga kita jadi biasa dengar yang tidak alami. Main piano asal kedengaran not nya ya sudah, sudah cukup. Jadinya kita kurang peka sama suara piano yang sejatinya bisa jauh lebih berwarna. 

Mungkin juga karena kurang peka sama profil-profil bunyi ini, ngaruh juga ke gedung-gedung yang dibangun. Setau saya, sulit sekali mencari gedung yang layak untuk resital musik klasik di Bandung, apalagi Madiun. Sepertinya semua auditorium dibangun untuk digunakan dengan pengeras suara.

Tidak cuma gedung dan auditorium, rumah orang-orang juga sepertinya juga tidak ada yang memperhatikan akustiknya. Jadi kalau manggil anak harus agak teriak biar kedengaran. Dan karena ga peduli sama akustik ini mungkin juga kita jadi boros, suka bela-beli perabotan dan hiasan yang banyak dan kurang perlu. Padahal kalau mau akustik ruangan bagus, tidak boleh banyak benda-benda di ruangan itu.

Mungkin saja kalau kita perhatian sama profil bunyi begini bedanya akan signifikan. Suara orang ngaji di rumah akan jauh lebih merdu. Ngomong jadi hemat energi karena ga usah keras-keras. Ga boros beli perabotan karena nanti mengganggu kualitas akustik ruang. Lebih hemat listrik karena kalau arisan di rumah ga perlu nyewa ampli. Kuping kita juga lebih awet karena tidak terbiasa mendengar suara hingar-bingar. Dan dunia ini ga jadi makin berisik!

‘Tarik’, ‘Dorong’, dan ‘Figur 8’

Dalam Bahasa Inggris, menggesek dari pangkal ke ujung bow disebut down bow, sedang menggesek dari ujung ke pangkal disebut up bow. Sedangkan dalam Bahasa Perancis, digunakan tiré (tarik) untuk down bow dan poussé (dorong) untuk up bow.

Konsep tarik dan dorong ini menarik. Seperti menarik atau mendorong sebuah kotak di atas lantai. Bagian bawah kotak menimbulkan gaya gesek dengan lantai. Mirip seperti yang terjadi pada bowhair dan senar.

Ketika menggesek suatu senar, kita akan berusaha untuk tidak mengenai senar lain. Kurang lebih gambarnya kalau dilihat dari penampang senar yang dibelah (garis itu bowhair, lingkaran itu senar, maafkan ilustrasi yang begini ini):

Padahal untuk memproduksi suara yang lebih maksimal, diperlukan gaya gesek (friksi) yang lebih. Friksi ini dibentuk bukan dengan menambah tekanan pada bow. Tapi bisa dengan mengubah sudut menggesek. Misal pada senar D, down bow diatur supaya bowhair lebih dekat ke senar G. Sebaliknya, pada up bow lebih dekat ke senar A. Sehingga friksi nya akan lebih besar tanpa menambah pressure.

Tapi jika sudut ini diusahakan sesaat sebelum mengubah arah bow, perpindahan bow akan jadi tidak mulus. Supaya perpindahan bow tetap mulus, kita melakukan figur 8. Tangan kanan bergerak sepanjang jalur yang membentuk figur 8 imajiner.Untuk permulaan, cari dulu sudut yang tepat untuk tiap senar, sehingga friksi bertambah tapi tidak sampai kena senar di sebelahnya. Nanti akan terasa friksi nya hanya dengan mengubah sudut gesekan. Latih tarik dan dorong dengan sudut yang baru dicari ini untuk tiap senar. Setelah itu baru perlahan lakukan figur 8 dan praktekkan pada tangga nada.

Hmm, kenapa kalau nulis selalu kaku dan jelek ya. Biarin lah, selamat berlatih!

Sumber : Journal America Viola Society

Kebutuhan, Liability, dan Aset

Pernah menonton video ini dan sedikit banyak setuju dengan isinya. Atau bahkan bisa dibilang baru lebih sadar dengan barang-barang yang saya beli setelah nonton video ini.

Inti dari video adalah bahwa apapun yang kita beli bisa dikategorikan menjadi:

Liability (saya ga nemu terjemahan yang pas buat kata ini), benda yang kita beli kemudian benda ini tidak memberikan keuntungan, bahkan sebaliknya, benda ini akan memakan uang kita. 

Aset, benda yang kita beli kemudian benda ini bisa menghasipkan keuntungan. 

Jadi mobil, ponsel, rumah, dan baju adalah contoh-contoh liability. Benda-benda ini membutuhkan uang, misal mobil butuh bahan bakar, ponsel, butuh pulsa, rumah butuh maintenance, baju perlu dicuci dan dirawat.

Sedang aset bisa berupa apartemen yang dikontrakkan, peternakan, sawah yang dikelola dan produktif, kendaraan yang disewakan, dsb. Benda-benda ini dimiliki dan membawa keuntungan pada pemiliknya.

Jadi sebaiknya berhentilah mengira punya aset yang melimpah kalau sudah punya gadget-gadget terbaru, mobil banyak, rumah di mana-mana. Itu semua liability. Emang benar benda-benda itu bernilai dan bisa dijual kalau lagi butuh uang. Tapi beberapa benda itu nilainya akan semakin berkurang, selain itu juga memerlukan uang untuk bisa berfungsi dan perawatan. Jadi kalau menjual sesuatu menurut saya hitungan keuntungan bukanlah harga jual dikurangi harga beli, tapi harga jual dikurangi harga beli masih dikurangi biaya perawatan.

Yang dibahas di video tadi menekankan pada penyebab makin kayanya orang karena mereka membeli banyak aset, dan yang belum kaya jadi lama ga kaya-kaya karena suka membeli liability. Jadi ternyata orang-orang kaya itu memang secara sadar membeli aset-aset. Mereka membeli dengan sadar. Sedang yang belum kaya banyak yang hobi membeli liability, mungkin karena mereka membeli dengan kurang sadar.

Eh iya, jangan lupa juga kalau benda yang kita beli ada juga yang kebutuhan. Benda yang kalo kita ga punya bisa mengancam kelangsungan hidup. Misal makanan, baju, tempat tinggal, odol, sabun, dan shampo.

Karena saya orang biasa saja, jadi saya ga akan berbicara tentang bisnis seperti yang ditekankan di video tsb. Tapi ingin mengambil sebuah nilai, juga untuk mengingatkan diri sendiri, bahwa kita sebaiknya benar-benar sadar dengan apa yang kita beli.

Tentu saja kebutuhan adalah hal yang pertama kali harus dipenuhi. Tapi kebutuhan ini kalau berlebihan nanti akan bergeser derajatnya menjadi liability. Makanya harus sadar membeli sesuatu utk memenuhi kebutuhan kita itu cukup, atau kurang, atau berlebihan. Habis itu kalau ada uang sisa, dibelikan aset untuk nambah pemasukan.

Menurut pengamatan pribadi saya, sadar atau tidak, banyak orang yang suka membeli liability. Saya ga ngomongin bisnis, jadi saya ambil contoh yang ada di sehari-hari, dan terutama benda-benda ‘kecil’. 

Sadar atau tidak kita selama hidup suka sekali membeli baju, tapi ternyata ga sering dipake. Numpuk atau cuman digantung aja di lemari. Coba perhatiin lagi berapa banyak pakaian di dalam lemari yg jarang dipakai. Ini berlaku juga utk yg sejenisnya seperti sepatu, jam tangan, dan hal hal lain yg dikenakan di badan. Menurut saya ini kan ga efisien, masa beli sesuatu tapi manfaat yg diambil ga banyak. Ga worth. Begitu juga dgn gadget-gadget masakini yg mahal-mahal, speknya tinggi tapi cuman dipakai selfie. Menurut saya ini juga ga worth. Apalagi mengingat sebenernya gadget adalah benda yg masa hidupnya ga bisa lama. Perabot rumah juga begitu, di dalem rumah mungkin banyak sekali benda yg sebenernya jarang digunakan, yg sebenernya kalau ga punya juga gapapa.

Saya juga pernah ditanya pingin beli mobil apa engga, saya jawab engga. Saya bilang kalau harga mobil itu 80 juta berarti harga biola yang saya pakai harus 160 juta. Karena mobil itu liability, sedangkan bagi pemain biola, instrumen itu bisa dibilang aset, karena mempengaruhi performansi pekerjaan, dari instrumen itu didapat penghasilan.

Rasanya kalau kita membeli liability secukupnya, manfaatnya cukup banyak:

  • Hemat, uang keluar secukupnya, biaya utk perawatan liability juga lebih rendah
  • Terlatih untuk bekerja efisien, memanfaatkan semaksimal mungkin apa yang dipunya
  • Mengurangi stres. Liability bisa jadi penambah faktor stres. Makin banyak liability makin banyak perawatan, makin banyak waktu tersita. Belum lagi kalau benda-benda ini bermasalah atau jadi susah mencari sesuatu karena kebanyakan barang
  • Rumah lebih tertata dan rapi, ga kebanyakan barang
  • Di rumah jadi lebih banyak ruang karena ga dipake untuk menyimpan barang-barang yang jarang dipakai
  • Ada yang mau nambahi? Mungkin juga bisa dilihat mengapa orang Jepang minimalis.

Alasan-alasan yang saya bicarakan mungkin memang tidak akan berlaku untuk semua orang. Mengingat tiap orang kebutuhannya berbeda. Tapi cuman ingin mengingatkan ke diri sendiri untuk benar-benar sadar dengan benda-benda yang dibeli.

Violinist’s Concert Outfit

Playing in a symphony orchestra is an energy consuming work. A concert program of an overture piece, a concerto, an orchestra piece, and a symphony takes two hours long. It requires all players to have good endurance and concentration. 

Although it’s true that playing violin is also a matter of endurance, but for me, violinist’s concert outfit is something need to take care of. Female orchestra member are usually free to choose their own black dress. They can choose any type to suit their need, at least for both comfortability and stylistics. But male players usually can wear only white shirt and suit. When it comes to endurance, suit which is not comfortable will unnecessarily consume more energy.

After experiencing such thing, I thought about a suit and shirt design that allow violinist and violist to move more freely.

Actually there are people who already started to make special suit and tux for musician. For example flextux. And coregami, a very hi-tech shirt and tux.

Of course those are very good but for me they aren’t affordable and difficult to buy from Indonesia (not so many people here in my town have credit cards or any other online payment things).

The Suit

Cloth fold: playing violin require you to move your arm and raise elbow a lot. It will pull the cloth from your back. To solve this, after a discussion with a local tailor who tailored my suit, we decide to make a cloth fold in the center of the back. So arms can move more freely without restriction from the suit. It’s similar with what flextux guy did, but different design. My tailor said he ever made such fold back in 1980s.

 

Collar: space between collars must be wide enough so they aren’t climbing your neck. This way we can place violin as close as possible to the neck. For me place the violin as close as possible to the neck is important. 

Sleeve: although a suit is slimfit, the sleeves should not be too tight. They must let the arm to move freely.

Shoulder pad: it’s better to use thinner shoulder pad. 

Fabric: my tailor use a fabric which is able to stretch. Also make sure the fabric is not heavy.

The Shirt 

Collar: wings collar works better. The spread collar will make the collar thicker so it will add more space between neck and violin.

Cloth fold on the back: It’s important for arm movement. I asked my tailor to make this fold bigger than usual shirt.

Cuff: it doesn’t matter french or other styles. Make sure they’re wide enough so they don’t restrict arm movement. Also sleeves must be long enough. Too short sleeve will bother arm movement.

Fabric: I used common fabric for shirt. Use anything as long as it’s comfortable.

I wore this set of outfit for Bandung Philharmonic concert on April and recital on May and felt happy that it worked fine.

Photo by Lucky S. Putra

If you’re experiencing similar problem, hope this article helpful. Or even if you have any other ideas, please let me know!