Budaya Indonesia di Jagad Maya

Dulu pernah saya ikut jadi tim pengrawit semasa masih sekolah di SMA 3 Madiun. Saya main bonang penerus. Saya ingat dulu diajari suatu teknik yang dinamakan seleh dan sekaran pas main bonang.

Dulu juga ketika sudah kuliah, saya lupa beberapa teknik itu. Jadi saya buka internet, dan googling masalah seleh dan sekaran siapa tau ada yang menuliskan. Ternyata ada! saya senang karena jadi ingat lagi, tapi sekaligus sedih, sangat sedih, karena tulisan tentang seleh dan sekaran tertulis pada website sebuah universitas di Amerika!

Pernah juga saya mencari tutorial bermain musik keroncong, musik asli Indonesia ini. Sedih lagi, karena saya menemukan tutorial di sebuah blog berbahasa Malaysia!

Eh, mengapa ya saya tidak menemukan tulisan-tulisan terkait budaya saya sendiri yang ditulis oleh orang Indonesia sendiri di internet? Padahal banyak saya nemu orang barat yang mengajarkan kesenian dari asalnya, misal bermain biola melalui website maupun Youtube.

Apa memang budayawan kita merasa kurang perlu menuliskan budaya negeri ini di internet? Sehingga dibiarkan saja sebagai literatur-literatur tertulis/tercetak di perpustakaan? Di mana saya bisa menemui literatur-literatur itu ketika saya ingin belajar?

Oke, saya belum paham.

Advertisements

[Opini] Membangun Komunitas Hacker

Sudah lama saya kepingin nulis ini. Tapi sering lupa, ga tau lupa kenapa. Karena kemaren dapet PM dari Ketua Himpunan jadi inget lagi. Ditulis deh.

Tulisan ini ditujukan khusus buat temen-temen D3 Teknik Telekomunikasi Institut Teknologi Telkom. Angkatan berapapun, terutama yang masih ada jatah kuliah. Buat dosen juga. Bahkan buat Kaprodi juga. Tentunya kalau mau baca. Hehehe.

Harapan saya sih biar D3 TT itu tambah maju. Lulusannya punya kompetensi dan keahlian khusus yang lebih baik. Banyak hacker yang dilahirkan dari jurusan ini nantinya. Ga lebih, ga kurang.

Hack, Hacking, Hacker?
Istilah hack pertama kali digunakan di Massachusets Institute of Technology (MIT). Mahasiswa MIT yang tergabung dalam sebuah lab, ketika berhasil membuat sebuah alat bekerja lebih baik dan lebih maksimal, ia biasa mengatakan: ‘I hack this stuff!’.

Richard Stallman pendiri GNU Project, mungkin dulunya termasuk mahasiswa MIT yang paling awal menggunakan kata hack. Dalam banyak tulisan dan ceramah yang dia berikan, seringkali dia mendefinisikan kata hack sebagai enjoy the playful cleverness. Ia juga seringkali mengatakan sebagai sesuatu yang fascinating fun. Singkatnya, mahasiswa MIT yang pertama kali memperkenalkan kata hack mendefinisikannya sebagai ngoprek. Dan orang pasti sangat senang menghabiskan waktu untuk ngoprek sesuatu yang ia sukai. Misalnya Richard Stallman sebagai Operating System Software Developer suka menulis kode untuk perangkat lunak dan menganggapnya sebagai sesuatu yang menyenangkan.

Hack tentunya meliputi banyak hal. Semua hal bisa menjadi bahan hack. Baik perangkat lunak maupun perangkat keras. Asal orang yang melakukannya (hacker) menyukainya.

Pengertian selama ini bahwa kegiatan hack (hacking) adalah seseorang menyusup ke dalam sistem orang lain secara tidak sah merupakan pengertian yang sempit dan membingungkan. Sialnya lagi, kebanyakan orang ketika mendengar kata ini pasti menganggap negatif, kriminal, dan penjahat.

Mari kita luruskan. Hacking diartikan sebagai ngoprek, bukan meretas yang berarti negatif dan kriminal. Sedangkan meretas yang berujung tindakan ilegal kita sebut sebagai cracking. Hacking berarti suatu yang asyik dan baik sedang cracking bisa saja asyik tapi tidak baik.

Kondisi D3 Teknik Telekomunikasi IT Telkom
Saya mengenal cukup banyak mahasiswa di D3 TT yang bisa disebut hacker. Dalam bidangnya masing-masing tentunya. Mulai dari robotik, pemrograman web, jaringan, mikrokontroler dan sebagainya. Mereka cukup ahli di bidang masing-masing. Mereka biasanya tergabung di suatu lab, bisa sebagai asisten, studi grup atau grup riset. Jumlahnya saya katakan relatif sedikit. Yah, saya akui saya tidak pernah benar-benar menghitung atau mengadakan survey tentang hal ini. Tapi saya yakin jumlahnya lebih sedikit daripada teman-teman yang tidak tergabung dalam lab, riset grup maupun studi grup.

Saya juga tahu beberapa prestasi yang dihasilkan dari para hacker ini. Saya juga yakin bahwa para hacker ini pasti lebih mudah mengerjakan Proyek Akhir (PA), ya karena mereka telah mendalami suatu bidang terlebih dahulu. Singkatnya, para hacker ini punya kelebihan daripada mahasiswa biasa non-hacker.

Saya akui lagi, saya tidak pernah benar-benar menghitung atau melakukan survey tentang hal ini: Mahasiswa non-hacker kebingungan apa topik PA mereka, bahkan belum terpikirkan sama sekali sampai habis Semester ke-4. Bahkan beberapa mahasiswa yang tergabung dalam suatu lab juga masih kebingungan. Terlebih ilmu untuk pengerjaan PA, sepertinya harus dimulai dari awal meskipun tidak bisa dibilang dimulai dari nol.

Tidak ada bukti kuantitatif tentang data di atas, tapi dari hasil diskusi yang saya lakukan dengan banyak orang, dengan teman-teman sekelas, dengan Ketua Himpunan, kami merasakan hal yang sama. Inilah keadaan di D3 TT yang kami rasakan.

Salah siapa? Kurikulum mungkin. Dosen mungkin. Institusi mungkin. Mahasiswa mungkin.

Menjadi Hacker
Saya males buang-buang tenaga buat mencari siapa yang salah. Tapi satu hal yang jelas: Tiap mahasiswa punya hak untuk menjadi hacker.

Dengan menjadi hacker tentunya mahasiswa lebih mudah untuk mengerjakan PA. Ya karena mereka akan memiliki ilmu terlebih dahulu, entah cukup atau belum untuk mengerjakan PA. Tentunya ilmu tadi pasti jadi modal yang sangat berharga. Ilmu yang dimaksud tentunya berdasarkan minat mereka sejalan dengan Program Studi D3 Teknik Telekomunikasi.

Selain itu, akan lebih banyak prestasi diukir oleh para hacker D3 TT. Pimnas, GemasTIK, INAICTA, KRI, KRCI akan lebih mungkin dimenangkan bila jumlah hacker lebih banyak.

Lebih jauh lagi, ketika lulus teman-teman hacker akan memiliki kompetensi. Kompetensi berupa keahlian berdasarkan bidang yang dia suka melakukan hacking. Para hacker bisa mengikuti sertifikasi yang ada berdasarkan keahlian mereka. Teman-teman tidak akan lulus tanpa punya keahlian tertentu. Ini akan jadi bekal berharga nantinya ketika memasuki dunia kerja.

Ya jadi semua harus jadi hacker. Ya, semua. Jadi hacker juga ada syaratnya. Yang paling pertama tentu menemukan: Apa yang akan kita hack?

Menemukan apa yang kita sukai adalah bagian yang sulit untuk menjadi seorang hacker. Atau mungkin bagian paling sulit.

Membangun Komunitas Hacker
Hacker punya komunitas. Yang sekarang sudah berjalan di IT Telkom adalah komunitas yang berada di lab dan bergantung pada lab. Sayangnya komunitas ini terbatas. Jumlah asisten lab itu terbatas. Jumlah peserta studi grup itu terbatas. Tentunya ini tidak akan cukup menampung semua mahasiswa yang punya hak yang sama untuk menjadi hacker.

Kemandirian mahasiswa sendirilah yang bisa jadi solusi. Perlu rasanya para calon hacker untuk membentuk komunitas mereka sendiri. Komunitas yang lebih tidak terbatas jumlah. Semua anak D3 bisa menjadi hacker sesuai dengan bidang yang diinginkan. Sebenarnya, secara umum hal ini bisa disebut studi grup, belajar sendiri dalam kelompok-kelompok.

Yang menyukai bidang A berkumpul dan membentuk studi grup sendiri, khusus mempelajari bidang A. Dalam kelompok tersebut bisa jadi ada anak yang sudah mengusai bidang A. Jadi dia bisa bertugas untuk mengajari yang lain. Ini akan memudahkan. Jika belum ada satu orang pun yang menguasai, kelompok tersebut bisa berdiskusi bersama. Bahkan bisa saja satu kelompok tersebut mencari orang ahli dari luar untuk membimbing mereka. Dari komunitas seperti inilah para hacker akan terbentuk. Jumlahnya juga tidak dibatasi oleh jumlah anggota yang ditentukan oleh suatu lab.

Apa peran himpunan/dosen/kaprodi/institusi?
Mungkin sekilas terlihat semuanya bisa dilakukan sendiri oleh mahasiswa tanpa campur tangan yang lain. Tapi saya rasa komponen-komponen di atas (himpunan, dosen, kaprodi, institusi) bisa jadi bakal mengambil peran penting yang akan sangat berpengaruh kepada komunitas-komunitas hacker yang ada. Atau bahkan sebelumnya, komponen-komponen inilah yang bisa menginisiasi adanya komunitas hacker tersebut.

a. Himpunan sebagai Inisiator
Bisa jadi suatu komunitas hacker telah dibentuk oleh beberapa mahasiswa yang memiliki kesamaan. Tapi, bukankah lebih baik jika yang menginisiasi adalah pihak yang sudah pasti dikenal oleh semua rakyatnya? Di sini bisa jadi himpunan mahasiswa sebagai ‘pemilik’ komunitas-komunitas hacker yang dimaksud. Himpunan mahasiswa tentu sudah dikenal oleh semua pihak dan lebih menguasai media kampus daripada mahasiswa yang perseorangan. Intinya efeknya akan lebih kuat jika himpunan yang memperkenalkan adanya komunitas-komunitas hacker.

b. Kaprodi sebagai Motivator
Akan sangat besar efeknya jika kaprodi mendorong semua mahasiswa untuk berprestasi dan ahli dalam suatu bidang. Kaprodi bisa melakukannya dengan mendorong untuk membentuk komunitas-komunitas hacker sendiri. Bahkan, seandainya komunitas-komunitas hacker ini sudah berjalan cukup lama dan cukup baik, bisa saja kaprodi ‘mewajibkan’ setiap mahasiswa untuk memilih komunitas yang sesuai dengan minat masing-masing.

c. Dosen sebagai pembimbing
Dosen pasti mau berbagi ilmu dan membimbing komunitas-komunitas ini. Bisa jadi dosen tidak mungkin untuk mengajar komunitas ini karena keterbatasan waktunya dan sebagainya. Tetapi suatu komunitas ini pasti perlu pengarahan dari orang yang lebih berwawasan dan lebih mengerti di bidangnya.

d. Akses ke lab
Saya rasa setiap mahasiswa mempunyai hak untuk mempergunakan setiap fasilitas yang ada di kampus. Tentunya menggunakannya secara bijak dan bertanggung jawab. Termasuk komunitas ini tentunya suatu saat sangat membutuhkan fasilitas yang ada di lab entah berupa peralatan, komputer, server atau apapun. Dengan kesepakatan bersama pengelola lab tentu ini bisa dilakukan dan sangat membantu komunitas-komunitas hacker tersebut.

Di dunia kerja bisa jadi keahlian teknis sangat diperlukan, bisa jadi juga tidak terlalu digunakan. Bisa jadi di kemudian hari kemampuan sosial itu lebih diperlukan: kejujuran, kemauan, saling berbagi, dan sebagainya.

Saya percaya bahwa komunitas hacker seperti ini bakal mengasah baik kemampuan teknis maupun kemampuan bersosial. Tidak hanya ngoprek, tapi tiap anggota akan saling berbagi, saling membantu, jujur dan tidak berkhianat terhadap yang lain, dsb. Ini akan jadi bekal penting di kemudian hari.
Yang Sudah Berjalan
Penulis adalah salah satu penghuni kelas D3 TT 34-03. Di kelas ini, sudah pernah dibentuk beberapa komunitas hacker antara lain: Studi Grup Java-Android, Studi Grup Keamanan Jaringan, Studi Grup Mikrokontroler, dan Studi Grup Antena. Beberapa anggota kelas sudah mendaftar ke komunitas yang mereka inginkan. Bahkan, Studi Grup Java-Android dan Keamanan Jaringan sudah ada dosen yang bersedia menjadi pembimbing.

Komunitas di kelas kami ini berjalan kurang baik. Mungkin karena waktu dan keadaan yang kurang tepat. Komunitas-komunitas ini baru dibentuk ketika perkuliahan semester 4 hampir selesai. Ketika itu sedang banyak kegiatan lain dan tugas serta persiapan Ujian Semester. Jadi komunitas ini kurang diperhatikan oleh anggotanya sendiri.

Penulis yakin, jika komunitas-komunitas ini dijalankan pada waktu dan kondisi yang tepat, tentu akan berjalan dengan baik mengingat semangat teman-teman D3 untuk belajar hal baru begitu tinggi.

Jadi alangkah baiknya jika komunitas-komunitas hacker ini mendapat dukungan dari berbagai pihak terkait. Disosialisasikan juga ke semua kelas, semua angkatan khususnya teman-teman D3 TT. Hacker-hacker baru akan bermunculan dan prestasi insya Allah akan lebih baik.

Madiun, 27 Juni 2012

Ahsan Fathoni
Rakyat Elko Biasa

Minggu Pagi di Jalan Telekomunikasi

Hari Minggu, waktunya buat mahasiswa buat molor-molorin jam tidur mereka. Ga semua sih, banyak juga yang seneng berolahraga, sampai-sampai kalo saya juga mau maen basket selalu ga kebagian tempat. 😦 Bahkan, banyak juga yang maen bola di lapangan depan gedung rektorat. Untung pak rektor kagak marah, ato malah ikutan maen bola, hehe. 🙂

Itulah suasana Jalan Telekomunikasi di hari Minggu. Orang-orang berolahraga. Ga yang muda ga yang tua, ga yang sudah kecil ga yang masih besar(?), ga laki ga perempuan, ga yang cantik ga yang kurang cantik, dst. Semua memenuhi jalan, kampus, dan lapangan mana saja yang mereka temui.

Itulah daya tarik tersendiri kuliah di perguruan tinggi di bawah naungan Yayasan pendidikan Telkom (promosi). 🙂

Daya tarik yang lain yang ga kalah seru adalah, SHOCKING MARKET yang juga selalu ada di Jalan Telekomunikasi tiap hari Minggu. Apa itu SHOCKING MARKET?? Adalah suatu keadaan di mana sebuah jalan yang biasanya dilalui kendaraan telah dipenuhi para pedagang pada suatu satuan waktu tertentu. Inilah Pasar Kaget di hari Minggu. Anda bisa menemukan sagala macam dagangan di sini. Mulai jual pesawat terbang sampai kapal laut (tentunya mainan), jual batik sampai kaos kaki, dan tentunya jajanan yang maknyus.

Cekidot 🙂

Khusus Hari Minggu lalu tanggal 14 November ada acara yang keren banget pastinya di kampus IT Telkom. Ada Big Event buat menyambut Hari Raya Idul Adha. Langsung ke TKP yah. 🙂

Ada lomba menggambar kalo ga mewarnai buat adik-adik ini.

Ini panggungnya. Pas pengambilan gambar ini acara baru mau dimulai.

Ada stand yang dibikin sama mahasiswa It Telkom juga, dari UKM Koperasi Mahasiswa. Ini temen sekelas saya nongol di sini. 🙂

Dan yang paling penting, jangan lupa buat membantu saudara-saudara kita yang terkena musibah. Semoga diberi ketabahan dan diampuni dosanya oleh ALLah swt. Aamiin.

Sebenarnya masih buanyak rangkaian acara ini. Ada ceramah dari Ust. Subki Al Bughury, penampilan nasyid sekelas Shoutul Harokah, bahkan hadir Kak Oki yang berperan sebagai Anna di film KCB. Sayangnya saya ga bisa nonton karena ada agenda lain. 😦

Yah, inilah Minggu cerah di Jalan Telekomunikasi. Semoga tulisan saya yang mungkin kurang penting ini berguna bagi Anda dan setidaknya dapat menarik minat anak SMA yang ingin melanjutkan studi di kampus saya (promosi). Hehe.. 🙂

Thanks. 🙂

Laporan dari Pasar Seni ITB 2010

Barusan saya pulang dari ITB. Menonton Pasar Seni ITB yang kata temen saya yang kuliah di sana hanya ada tiap 4 tahun. Jadi beruntung saya bisa ke sana.

Namanya Kota Bandung sudah mirip-mirip Jakarta saja, macet sana sini. Apalagi ini hari Minggu. Saya berangkat sekitar pukul 10 dan sudah harus menghadapi kemacetan sejak keluar dari gang rumah. Ditambah lagi, saya bukan orang asli Bandung yang harus agak mikir-mikir mencari jalan ke kampus ITB.

AlhamduliLLah akhirnya nyampe juga. Rame banget dah pokoknya. Orang-orang pada bejibun ngliatin seniman-seniman dan hasil karya mereka.

Dan yang bikin lebih penat, pas pulang macetnya lebih gila lagi. Tapi ga apalah. Yang penting asik. hehe

Nih beberapa foto yang sempat saya ambil tadi:


Diet Plastik. Bapak-bapak pake baju plastik yang buanya itu. Ada tulisan kecilnya juga kira-kira bunyinya “600-700 meter kubik sampah plastik di Bandung tiap harinya.

Ini tadi ada bapak-bapak yang memotret anaknya dengan background lukisan-lukisan. Saya juga ikutan memotret.

Ini seorang seniman lagi melukis. Saya tidak paham apa yang akan dilukis. Sampai-sampai celananya juga dilukis. Hehe….

Ada Blues ngejam juga. Keren dah.

Ada motor jadul dan unik juga.