Write Practice Journal to Practice Healthier

Violinist may experiences pain in neck, arm, or back because of long period of practicing. Especially when practicing by ourself, the long and restless practice happens when there is no practice plans. This is why writing practice journal is essential for healthy and efficient practice.

For me, the key of healthy and efficient practice is making targets smaller and detail. With this is mind, we will practice in less time because of smaller targets but more efficient because we practice in more detail. But of course, we will need more practice sessions. I once talk with American violist, Michael Hall. He suggested to make a session of practice consists of only three goals, with each goal is a specific thing and not too difficult to achieve. 

For example if we’re practicing orchestral excepts, goals for a sessions would be:

  1. Make staccato short in bar 24-28
  2. Phrasing in bar 80-88
  3. Practice the difficult passage from bar 127 with M. M. = 68

By writing them in our journal, we make ourself to focus on goals and it means practicing in less time. By making each goal detail, we raise awareness in both technical and musical aspects. And by making each goal not too difficult means less frustration.

If there are many things to practice it’s always better to make each practice session short but greater number of sessions. It helps me to be more focus on goals, more details in both technique and music, less frustrating while it also allows me to take more break.

Break between sessions is an ‘active’ break. It should be spent for writing review of the last session then writing goals for the next session. Also to avoid stiffness and injury, doing a short stretching will be helpful. So the break is essential in planning the practice and allows our body to be more relax and ready doing next session of practice. Don’t forget to take longer break after few sessions.

So, keep a journal is important not only to achieve better and faster result, but also keep our body in good condition. Happy journaling!

Budaya Indonesia di Jagad Maya

Dulu pernah saya ikut jadi tim pengrawit semasa masih sekolah di SMA 3 Madiun. Saya main bonang penerus. Saya ingat dulu diajari suatu teknik yang dinamakan seleh dan sekaran pas main bonang.

Dulu juga ketika sudah kuliah, saya lupa beberapa teknik itu. Jadi saya buka internet, dan googling masalah seleh dan sekaran siapa tau ada yang menuliskan. Ternyata ada! saya senang karena jadi ingat lagi, tapi sekaligus sedih, sangat sedih, karena tulisan tentang seleh dan sekaran tertulis pada website sebuah universitas di Amerika!

Pernah juga saya mencari tutorial bermain musik keroncong, musik asli Indonesia ini. Sedih lagi, karena saya menemukan tutorial di sebuah blog berbahasa Malaysia!

Eh, mengapa ya saya tidak menemukan tulisan-tulisan terkait budaya saya sendiri yang ditulis oleh orang Indonesia sendiri di internet? Padahal banyak saya nemu orang barat yang mengajarkan kesenian dari asalnya, misal bermain biola melalui website maupun Youtube.

Apa memang budayawan kita merasa kurang perlu menuliskan budaya negeri ini di internet? Sehingga dibiarkan saja sebagai literatur-literatur tertulis/tercetak di perpustakaan? Di mana saya bisa menemui literatur-literatur itu ketika saya ingin belajar?

Oke, saya belum paham.

Menulis Notasi dengan MuseScore

Akhirnya kampus saya punya orkestra sendiri! πŸ˜€ Meskipun memang belum lengkap dari segi instrumen dan personalnya. Tapi ini pencapaian yang cukup bagus sebelum saya lulus. Hehehe. Kudos buat temen-temen di Eka Sanvadita Orchestra.

Kadang-kadang sih saya dikasih tugas buat menulis aransemen dari beberapa lagu yang akan dimainkan. Jadi deh saya nyari perangkat lunak yang pas. Dan saya akhirnya nemu MuseScore.

Image

Aplikasi ini sudah ada di repository Ubuntu maupun BlankOn. Silahkan menjalankan perintah pemasangan sakti untuk memasangnya:

sudo apt-get install musescore

Saya rasa aplikasi ini sudah sangat baik. Saya suka karena memang khusus digunakan untuk menulis notasi. Tidak seperti Guitar Pro yang biasa digunakan dengan lebih mengutamakan tampilan tab baik gitar maupun piano. MuseScore murni harus menulis notasi, jadi bisa sekalian belajar not balok. Bagus buat orang awam seperti saya. Ngomong-ngomong kalo alternatif Guitar Pro ya TuxGuitar.

Selain sekedar nulis, MuseScore juga bisa memutar yang kita tulis dan mengekstraknya menjadi berkas berformat MIDI.

Asyiknya MuseScore ini Free SoftwareΒ dan menyediakan buku panduan yang lengkap di website resminya. Jadi meskipun tidak ada yang mengajari, ya bisa aja coba-coba sambil baca buku panduannya.

Menggunakan MuseScore bagi saya juga berarti sebuah komitmen untuk menggunakan FOSS dalam bidang lain selain IT. Dan ini terbukti bisa, ya, kita tidak perlu mengalirkan uang terlalu banyak untuk membeli perangkat lunak. Selamat berekspresi! πŸ™‚

Violinists Telkom

Baru berdiri tanggal 1 April. Keren juga yah, semoga aja bisa jadi orkestra kayak di ITB.

image

Baru aja ngumpul sekali, senar saya putus 😦 . Terlalu semangat kali ya.

image

Selamat buat violinists Telkom! πŸ™‚

Posted from WordPress for Android