Memanggil Perintah Shell Menggunakan Modul os Pada Python

Pada tulisan saya sebelumnya, saya mengguakan pustaka subprocess pada Python untuk memanggil sebuah shell script. Ternyata hal ini juga dapat dilakukan dengan menggunakan pustaka os.

Berikut ini contoh program untuk melakukan ping yang sebenarnya adalah sebuah perintah shell yang dipanggil menggunakan Python:

Image

Variabel target adalah sebuah string hasil masukan, maka digunakan perintah raw_input(). Variabel ping adalah sebuah string perintah yang biasa dijalankan pada terminal. Kemudian digunakan perintah system() untuk menjalankan perintah ping tersebut.

Ketika dijalankan, hasilnya sebagai berikut:

Image

Selamat sore, selamat belajar! 🙂

Bersegera Memulai Atau Tertinggal

Saya terkesan dengan Raspberry Pi yang cukup fenomenal. Komputer seukuran KTP saya itu ramai diperbincangkan. Banyak juga orang-orang Indonesia yang memesannya. Ada lagi satu hal yang membuat saya lebih terkesan: Raspberry Jam.

Anak-anak Inggris belajar pemrograman pada usia awal belasan tahun dan Raspberry Jam memfasilitasinya. Anak-anak belasan tahun mempelajari Python, bahasa pemrograman yang setahu saya mahasiswa di kampus saya pun banyak yang belum pernah menggunakannya.

Tak heran kalau di luar sana muncul banyak ahli berusia muda. Ya, mereka memulainya sejak dini.

Bagaimana dengan Indonesia? Saya tidak tahu apakah kita tertinggal atau tidak dari negara-negara lain. Memang ada beberapa orang yang sangat ahli dari negeri ini. Yang jelas, kita pasti tertinggal jika tidak bersegera memulainya sejak dini. Ya, memulai belajar sejak usia muda, bidang apapun itu.

Oke, usia saya sudah tidak belasan tahun lagi. Saya menyesal. Tapi tak mengapa, mari kita memulai untuk generasi yang berusia belasan tahun.

Ya, kita mulai!

image

image

image

image

Ya, inilah generasi yang memulai mengenal pemrograman di usia belasan. Liburan kemarin saya pulang dan belajar bersama anak-anak muda SMAN 3 Madiun, mantan sekolah saya dulu. Ini mengasyikkan! Membuat liburan saya berwarna dan bermakna. 🙂

Mereka mempelajari HTML dan PHP. Mulai dari dasar HTML, sedikit komponen CSS, HTML Form, dsb. Juga dasar pemrograman PHP, if-else, dan pengulangan for dan while.

Meskipun sedikit, semoga efek encourage-nya besar. Membuat anak-anak ini ingin belajar lagi dan lagi. Membuat anak-anak ini punya ketrampilan. Membuat anak-anak ini ahli dalam keterampilannya. Membuat negeri ini punya generasi yang tidak tertinggal dari negara maju sekalipun! Merdeka! 🙂

Posted from WordPress for Android

Mengganti Tema GTK Pada Manokwari

Kemarin-kemarin saya bingung kenapa ganti tema GTK di Manokwari malah gambar latarnya hilang. Ternyata memang tema GTK kebanyakan belum dirancang agar kompatibel dengan Manokwari. Jadi deh saya nanya di milis pengguna BlankOn. Kemudian dijawab sama Pak Azis Ws. Dikasih deh dokumentasi cara hacking tema GTK supaya jodoh dengan Manokwari. Terimakasih banyak Pak Azis! 🙂

Dokumentasinya bisa diunduh di sini.

Sepertinya Bahasa Indonesia Perlu Praktikum

Dulu ada mata kuliah Bahasa Indonesia dan berfokus pada penulisan karya ilmiah. Termasuk di dalamnya format penulisannya, bagaimana menuliskan Judul, Bab, Sub bab, Paragraf, dan sebagainya. Ya, ya, kita diajari itu semua. Tapi rasa-rasanya, sekarang ketika harus bikin proposal Proyek Akhir, penguasaan mata kuliah Bahasa Indonesia ini bermasalah.

Entahlah, sepertinya kita memang lupa pada kaidah-kaidah penulisan itu. Tapi ada fakta lain, nyatanya, kita memang tidak bisa menggunakan program pengolah kata untuk menuliskan proposal! He he he. Masak iya, tiap-tiap bagian jadi berkas-berkas tersendiri. Halaman pengesahan satu berkas sendiri, halaman judul satu berkas sendiri, Bab 1 satu berkas sendiri, Daftar Pustaka satu berkas sendiri, dll. Setelah kuliah dan segera lulus (Amin) ternyata kita belum bisa melakukannya dengan benar.

Jadi menurut saya, matakuliah Bahasa Indonesia perlu ada praktikum! Bukan sekedar teori di kelas yang bakal kita lupakan setelah keluar dari pintu kelas. He he he. Praktikum untuk menggunakan program pengolah kata agar sesuai dengan aturan penulisan karya ilmiah. Penggunaannya tentunya yang efektif dan efisien sesuai fitur program tersebut. Bukan satu bagian satu berkas tersendiri. Tentunya akan baik sekali jika ketrampilan ini sudah dimiliki sejak sekolah, SMA atau bahkan SMP.

Hasilnya, ya kita bisa membuat template program pengolah kata yang sesuai dengan penulisan karya ilmiah. Satu berkas untuk seluruh bagian tulisan karya ilmiah.

Praktikum yang dilakukan harusnya pakai LibreOffice atau OpenOffice karena itu yang free. Ya kita kan masih di lingkup pendidikan, masak mau pakai program yang belum tentu mampu kita beli. Itung-itung penghematan anggaran. Selain itu memang format berkas perkantoran yang SNI (ODF) memang didukung penuh baik oleh LibreOffice maupun OpenOffice. Untuk modul praktikum, bisa mereferensi buku elektronik ini

Rasa-rasanya kalau kampus saya, mau ga ya ada praktikum Bahasa Indonesia kayak gini. Saya ga yakin. Makanya dari judul tulisan ini saja sudah ketahuan saya berspekulasi. Menurut saya, ga ada ruginya kalau ada praktikum ini. Atau ada yang mau mengadakan pelatihan barang sehari atau dua hari dengan materi semacam ini? Entahlah, silahkan berspekulasi lagi untuk menjawabnya. Selamat Sabtu Malam! 🙂

Menulis Notasi dengan MuseScore

Akhirnya kampus saya punya orkestra sendiri! 😀 Meskipun memang belum lengkap dari segi instrumen dan personalnya. Tapi ini pencapaian yang cukup bagus sebelum saya lulus. Hehehe. Kudos buat temen-temen di Eka Sanvadita Orchestra.

Kadang-kadang sih saya dikasih tugas buat menulis aransemen dari beberapa lagu yang akan dimainkan. Jadi deh saya nyari perangkat lunak yang pas. Dan saya akhirnya nemu MuseScore.

Image

Aplikasi ini sudah ada di repository Ubuntu maupun BlankOn. Silahkan menjalankan perintah pemasangan sakti untuk memasangnya:

sudo apt-get install musescore

Saya rasa aplikasi ini sudah sangat baik. Saya suka karena memang khusus digunakan untuk menulis notasi. Tidak seperti Guitar Pro yang biasa digunakan dengan lebih mengutamakan tampilan tab baik gitar maupun piano. MuseScore murni harus menulis notasi, jadi bisa sekalian belajar not balok. Bagus buat orang awam seperti saya. Ngomong-ngomong kalo alternatif Guitar Pro ya TuxGuitar.

Selain sekedar nulis, MuseScore juga bisa memutar yang kita tulis dan mengekstraknya menjadi berkas berformat MIDI.

Asyiknya MuseScore ini Free Software dan menyediakan buku panduan yang lengkap di website resminya. Jadi meskipun tidak ada yang mengajari, ya bisa aja coba-coba sambil baca buku panduannya.

Menggunakan MuseScore bagi saya juga berarti sebuah komitmen untuk menggunakan FOSS dalam bidang lain selain IT. Dan ini terbukti bisa, ya, kita tidak perlu mengalirkan uang terlalu banyak untuk membeli perangkat lunak. Selamat berekspresi! 🙂

Memilih FOSS Karena Semangat Berbuat Baik

Tidak dipungkiri lagi, digitalisasi berbagai macam hal sudah sangat berpengaruh pada hidup manusia. Perangkat Lunak salah satunya. Mulai dari kita bangun tidur sampai tidur lagi, hidup kita dibantu oleh perangkat lunak. Mulai dari sms, update status, nonton video, denger musik, nulis not balok, sampai pekerjaan-pekerjaan lain.

Opini saya, tapi saya yakin ini pemikiran yang benar, karena perangkat lunak sudah mengambil peran yang sangat penting dalam hidup kita jadi sebaiknya kita tidak melakukan kecurangan di dalamnya. Tentu kita tidak ingin ‘mendapat dosa’ dari penggunaan perangkat lunak sehari-hari yang memang jadi ‘kebutuhan pokok’. Silahkan dijawab dengan hati nurani, benarkah pernyataan berikut:

“Ah, ini software mahal pake yang crack ajalah, asal kerjaan beres!”

Faktanya pernyataan di atas memang benar. Benar-benar terjadi dalam masyarakat kita, dan itu biasa. Banyak orang merasa biasa saja melakukannya.

Tidakkah kita merasa – dengan hati nurani – bahwa itu suatu hal yang menonjolkan ego kita? Ya, egois. Kalau kita melakukan hal yang demikian berarti kita tidak menghargai orang yang telah menolong kita menyelesaikan berbagai macam dan banyak sekali pekerjaan kita. Kalo dianalogikan dengan menulis skripsi di tahun 80-an, kita tidak secara hormat meminjam/menyewa/membeli mesin ketik untuk menulis skripsi kita. Kalo jaman ini, kita tidak secara hormat membeli perangkat lunak untuk menulis skripsi. Dengan cara apapun kita harus memiliki perangkat lunak itu, asal tidak membayar, dan kerjaan kita beres. Ya, egois. Asal kerjaan kita beres dan tidak menghargai hasil pekerjaan orang lain, si pembuat perangkat lunak.

“Ah, yang bikin software udah kaya kok, jadi ga apa pake yang bajakan, dia ga akan rugi.”

Kalimat itu, renungkan sendiri. Saya pikir sih, egois juga (banget) dan apatis.

Itulah mengapa, dengan mengesampingkan ego saya sendiri, saya memilih menggunakan Perangkat Lunak Bebas dan Terbuka (FOSS – Free Open Source Software). Mending saya meninggalkan perangkat lunak yang sudah dikenal sejak kecil dan menggunakan perangkat lunak bebas, mempelajari untuk mengoperasikannya, mati-matian mencari solusi sewaktu bermasalah, dan sebagainya daripada saya tidak menghargai hasil karya orang lain. Mending saya pusing mengenali hal baru daripada memupuk keegoisan dengan mengatakan semacam “yang bikin software udah kaya” . Toh pusing karena kurang terbiasa saja, cuman masalah waktu. Mending saya agak kerepotan melakukan pekerjaan saya karena menyesuaikan dengan perangkat lunak alternatif daripada numpuk dosa karena membajak, karena kata beberapa ulama membajak perangkat lunak itu hukumnya haram. Toh, permasalahan perangkat lunak ini cuman permasalahan dunia.

Faktanya, dua tahun saya pakai GNU/Linux dan saya baik-baik saja. Meskipun saya hidup di lingkungan dengan pengguna perangkat lunak bebas yang sangat susah dijumpai.

Jadi saya memilih perangkat lunak bebas, adalah karena semangat berbuat baik. Perangkat lunak udah jadi ‘kebutuhan pokok’, kita pakai hampir setiap saat, jadi saya menghindari kecurangan dan dosa. Entah kata orang GNU/Linux karena gratis jadi jelek, susah, tampilan jelek, dsb tapi saya tetep pakai. Ngomong-ngomong, kalo GNU/Linux dibilang jelek dan susah, kayaknya kurang disertai penjelasan yang lebih ilmiah. Tidak pernah disampaikan alasan dengan parameter-parameter yang jelas, sekedar opini pribadi saja.

Ah, andai orang-orang di negeri ini memang lebih mencintai negerinya daripada egonya, sudah pasti BlankOn jadi sistem operasi populer diikuti distro-distro buatan dalam negeri yang lain. 🙂

Catatan: Free Software berarti Perangkat Lunak Bebas, bukan Perangkat Lunak Gratis. Free menekankan pada freedom, bukan zero price. Jadi ya ini perangkat lunak berkualitas (sangat) tinggi karena tidak (belum tentu) gratis. Seperti kata Richard Stallman:

“Think of free speech not free beer”

Untuk lebih jelasnya, silahkan baca-baca Filosofi GNU.