Banyak Pengalaman, Dikit Ilmu

Kira-kira empat hari setelah beli road bike, saya jatuh dari sepeda. Alhamdulillah saya ga kenapa-kenapa, telapak tangan lecet dikit. Yang baret malah frame sepeda bagian belakang sama brifter (integrasi brake dan shifter) kanan. Jatuh ini karena kurang pemahaman ternyata jarak pedal road bike dan aspal itu lebih pendek dibanding kalau MTB (mountain bike). Jadi harusnya pas cornering (belok dengan kecepatan relatif tinggi) sisi pedal yang sama dengan arah belok harus di atas. Tapi ya dasar anak muda, sepertinya saya medal sambil belok kiri, jadi jatuhlah saya kebanting ke kanan.

Goresan di brifter kanan

Goresan di rangka sepeda

Selain itu, awal punya sepeda ini, rantainya suka loncat ngelebihi gir (depan) besar kalau ganti dari gir kecil ke gir besar. Sudah dibenerin beberapa kali ke tukang reparasi sepeda tapi tetep aja ini terjadi. Lama-lama kesel dan nyari sendiri. Setelah nonton video GCN, jadi tau ternyata jarak front derailleur (pemindah gigi depan) ke gir besar seharusnya maksimal 3 mm saja. Dan si tukang sepeda di sini memasangnya sampai 12 mm dari gir. Akhirnya saya saya sendiri yang benerin front derailleur.

Front Derailleur

Ga cuman masalah sepeda, main biola juga gitu. Dari tahun 2012 main biola pakai shoulder rest tanpa tau cara megang biola, akhirnya nunggu sakit punggung dan leher dulu. Baru nyari sana-sini, yang akhirnya saya tulis di tulisan saya +- 2 tahun lalu, Berlatih Tanpa Shoulder Rest. Kayanya yang baca lumayan banyak, semoga bermanfaat ya.

Kalau diamat-amati, rasanya semacam ini emang kelemahan kebanyakan orang. Belajar sesuatu ga nyari referensi, trial and error terus. Padahal di luar sana udah banyak orang yang udah mengalami dan membagikan pengalamannya ke khalayak.

Kita males banget baca buku, baca instruksi, bahkan sekarang gampang banget bisa nonton dari YouTube, gratis pula.

Mungkin selain males kita juga ignorance, ga berpikir kritis, juga menyepelekan. Membiarkan yang ga baik, menerima begitu saja hal-hal menyakitkan, lha yo wis arep pie neh. Jadi ga mau baca-baca atau sekedar nonton referensi lain. Itu namanya pikiran cupet, tidak terbuka. Kita harus belajar membuka pikiran.

Padahal kalau lebih ngerti dengan masalah yang bakal dihadapi / dipelajari jadinya bakal jauh lebih mudah. Bakal banyak waktu dan energi, bahkan uang yang bisa dihemat. Ga harus sampe emosi juga karena badan pegal gara-gara latihan biola atau marah-marah karena rem sepeda yang set up-nya ga betul.

Mungkin juga kalau saya udah belajar naik sepeda dan teknik-teknik yang benar saya ga akan jatuh kayak waktu itu, atau bolak-balik ke toko sepeda sambil ngomel ke mas-mas tukang servis, bahkan ga perlu ngeluarin duit kalau ditotal mungkin udah hitungan juta, buat pijet, akupunktur, dan fisioterapi gegara punggung sakit karena latihan biola. Yaaa meskipun takdir dan prosesnya mungkin emang harus gitu ya. Tapi pasti mendingan kalau banyak belajarnya dulu.

Mari banyak belajar, bangkitlah Indonesiaku heuheuheuheu!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s