Menghidupkan Slametan di Era Sosmed


Sialnya akibat ketidakbagusan kemampuan bersosialisasi saya di masyarakat, jadi bisa saja yang saya rasakan dan pikirkan mengenai interaksi orang-orang itu tidak tepat. Mungkin sedang kelebihan berpikir aja. Tapi tetep saya nulis. Kan ini blog saya, gitu aja koq repot.

Menurut adat orang Jawa, kalau ada orang meninggal biasanya akan ada slametan. Slametan ini acara kirim doa biasanya bertempat di rumah keluarga yang ditinggalkan. Tahlilan dan Yasinan, tuan rumah juga mempersiapkan konsumsi untuk tetangga-tetangga yang datang. Biasanya setelah orang meninggal, slametan itu 3 harian, 7, 40, 100, setahun, dst. 

Ngumpul untuk tahlilan dan yasinan itu kan ‘fisik’ saja. Menurut saya, dibalik itu ada makna sosialnya. Keluarga yang ditinggal dalam keadaan berduka. Dan duka ini ga hilang begitu saja dalam sehari-dua hari. Makanya kita datang untuk menengok keluarga yang ditinggalkan, berempati, menghibur, membantu yang bisa dibantu. Sekaligus melihat kondisi anggota keluarga. Mungkin 3 hari masih berduka, 7 hari masih tapi mendingan, 40 hari sudah ikhlas, dst.

Namun sayangnya di era yang katanya banyak yang membasmi bid’ah dan khurofat ini banyak yang sudah tidak slametan lagi, ya gapapa sih, suka-suka keluarganya. Tapi jadinya saya ga pernah mengalami ikut slametan 3 hari, 7 hari, dst. Jadi ga tau rasanya bagaimana memperhatikan keluarga yang ditinggalkan orang yang dicintai.

Selain era pembasmian bid’ah dan khurofat, sekarang ini era sosmed. Anehnya yang dilakukan orang di sosmed rasanya kok rasanya kurang empatik. Ya memang sosmed sekarang banyakan buat mengunggah hal-hal duniawi seperti makanan enak, video jalan-jalan nyebur laut, atau nongkrong di kafe mahal. Gapapa sih upload begituan, tapi di waktu-waktu di mana kita tau persis ada orang dekat yang terkena musibah, apa itu pantas? Dan kita juga tau kalau orang yang terkena musibah juga akan ngecek postingan kita di sosmed. Apa itu empati? Ini beneran nanya lho. I’m truly asking.
Jadi sebagai orang yang bodoh bersosialisasi, saya pingin tau. Kalau ada yang dilanda musibah bagaimana saya harus berempati? Masa iya sih kalau saya ikut sedih bukannya menghibur dan menyemangati, tapi posting foto hore-hore karokean. Buat saya ini ga masuk akal. Atau saya salah mengartikan hal-hal ini? Lagi-lagi ini beneran nanya.

Apa karena slametan dianggep bid’ah dan dibasmi, jadi dibasmi juga nilai empati di dalamnya? Emang kaya gitu kah membasmi bid’ah dan khurofat? He? Atau kita aja yang nyomot-nyomot seenak jidad.

Makanya sebaiknya kita slametan saja. Biar update kabar sahabat kita yang kena musibah, ga cuman update tren fesyen via Instagram. Slametan untuk lebih berempati dengan sesama, terutama yang membutuhkan. Slametan di era sosmed, kalau perlu slametan di sosmed juga.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s