Memahami Hal Baru

Agustus 2014, waktu itu Pulau Jawa tidak mengalami musim hujan sepanjang tahun seperti tahun ini. Jadi waktu itu engga lagi hujan-hujanan. Kami sedang di situs wisata Candi Sukuh, di mana Prof. Terje Moe Hansen memberikan pelajaran-pelajaran biola dan musik kamar untuk Ekstensya Music Camp.

Suatu sore matahari mulai berwarna orens memerah. Prof. Terje Moe Hansen mengambil gambar matahari terbenam menggunakan kamera smartphone miliknya. Matahari sore itu cantik karena tidak tertutup mendung. Salah satu teman, Halida, saat ini siswa di ISI Yogyakarta, mulai berbincang dengan Profesor tentang banyak hal, terutama teknik bermain biola. Kami pun mulai mendekat menggerombol dan ikut mendengar. Tentunya mereka berbincang dalam Bahasa Inggris.

Saya ingat beberapa percakapan. Salah satunya membahas cara memegang biola. Profesor menjelaskan, semakin kuat kita menekan instrumen di antara dagu dan bahu kita, suara biola akan semakin banyak teredam. Kemudian Profesor mempergakannya dengan memegang badan biola dengan tangan kiri sehingga ibu jari menempel di badan belakang biola, dan keempat jari lain menempel di badan atas dan menggesek senar  kosong. Suara biola teredam. Profesor memindahkan tangannya dari badan biola untuk membandingkan dengan suara yang tidak teredam.

Jadi bagaimana cara kita memegang biola? Profesor bilang, “support it with your left hand.”

Saat itu saya cuma berpikir, “kan sekarang udah bisa main dengan cara sekarang, badan juga rileks ketika main.” Waktu itu saya main pakai shoulder rest. Jadi kata-kata Profesor tadi membingungkan. Karena menurut saya waktu itu, memegang biola ya ditahan dengan dagu dan bahu dengan bantuan shoulder rest. Jadi waktu itu saya menolak pendapat Profesor. Sombong sekali ya, gila.

Sampai akhirnya setahun kemudian, Agustus 2015, bahu dan leher saya sakit. Baru sadar dan mengakui kalau selama itu cara main saya kurang benar. Saya harus menerima akibat dari kesombongan diri sendiri. 

Setelah melalui rasa sakit, berbagai video, banyak artikel, riset, dan diskusi orang-orang di forum, baru saya paham kata-kata Profesor setahun sebelumnya, “support the instrument with your left hand.” Tulisan yang lebih rinci mengenai ini ada di artikel saya sebelumnya.

Ternyata saya menyimpan sifat sombong dan sok tau yang membuat saya terhalang dari memahami hal baru. Dalam kasus ini, bahkan hal baru ini ternyata membukakan saya pada banyak hal lain. Mempelajari teknik baru jadi lebih mudah, intonasi dilatih dalam waktu jauh lebih singkat, rasa sakit berkurang, dsb. 

Saat music camp 2 tahun yg lalu Profesor juga bilang, mencari postur untuk tangan kiri sebaiknya dimulai dari jari 4 ke jari 1. Bukan jari 1 ke jari 4. Lagi-lagi saya sombong karena merasa udah bisa. 

Setelah 2 tahun saya baru paham hal ini. Dan ternyata cara berpikir ini membuka gerbang untuk mempelajari teknik yang saya kira saya ga akan bisa lakukan sampai kapanpun, interval 10 dan fingered oktaf. Lebih jelasnya, nonton saja video dari Profesor biola lain, Prof. William Fitzpatrick.

Jadi penting untuk kita di level manapun kita, untuk merendahkan hati dan merasa bodoh. Mau mendengar apa kata orang lain, siapapun itu. Mungkin bagi saya main biola juga bukan hanya tentang apa yg saya sampaikan melalui bunyi, tapi juga untuk lebih bisa mendengar. Mungkin kita ga langsung paham sesuatu, tapi mungkin pengetahuan baru dari orang lain suatu hari ternyata bisa membuka gerbang ke pengetahuan yang lebih luas. Siapa yang tau. 

Selamat saling dengar!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s