Microsoft Office Akan Hadir Untuk GNU/Linux? Saya Tidak Merasa Bahagia

Beberapa berita di situs-situs teknologi mengabarkan adanya rumor Microsoft akan menghadirkan paket Office untuk GNU/Linux. Kemungkinan akan dilakukan pada tahun 2014. Kabar baik atau buruk kah? Rasa-rasanya, saya tidak berbahagia mendengar kabar ini. Mengapa? Silahkan lanjutkan membaca.

Pengguna GNU/Linux seperti saya hidup di lingkungan di mana penggunaan sistem operasi Windows masih sangat mendominasi. Dokumen-dokumen yang sering dibagikan pun juga berformat .doc, .docx, .xls, .xlsx, .pptx, dan sebagainya. Format dokumen ini merupakan buatan Microsoft dan masih sangat banyak digunakan. Karena hal ini, pengguna GNU/Linux seringkali kesulitan jika menerima berkas berformat seperti ini. LibreOffice maupun OpenOffice.org dapat membukanya namun belum tentu seratus persen kompatibel dengan format ini.

Berkas teks misalnya, seringkali layout dan susunannya kacau bila dibuka menggunakan LibreOffice, terutama yang berformat .docx. Saya sendiri sering mengalaminya. Hal ini terjadi karena format ini adalah format proprietary yang dibuat Microsoft. Sehingga untuk mengakses berkas ini sepenuhnya sangat sulit dan perangkat lunak yang seratus persen kompatibel dengan format ini tentunya bikinan dia sendiri, Microsoft Office. Jadi pengolahan dokumen berformat seperti ini adalah sepenuhnya kekuasaan Microsoft.

Padahal format dokumen berstandar ISO yang diakui dunia sebenarnya adalah OpenDocument Format. Bahkan pemerintah Indonesia juga menetapkan format dokumen sesuai SNI juga OpenDocument Format.

Maka hal pertama yang perlu diingat adalah: gunakan format dokumen terbuka dan tinggalkan ketergantungan terhadap format dokumen berlisensi Microsoft! Sekalinya kita tergantung pada format dokumen Microsoft maka tidak ada pilihan lain selain menggunakan Microsoft Office. Bisa dibilang, ketergantungan kita terhadap format dokumen ini membuat diri kita dimonopoli oleh sebuah perusahaan raksasa: Microsoft.

Menggunakan Microsoft Office berarti membayar lisensi untuk perangkat lunak tersebut. Kalau semua pengguna komputer di negeri ini membayar lisensi itu, berapa juta dolar uang yang masuk kantong Microsoft?

Pengguna yang bermigrasi dari Windows ke GNU/Linux biasanya mencari program atau alternatifnya yang biasa digunakan di Windows. Jika Microsoft Office tersedia untuk GNU/Linux, maka kemungkinan pengguna baru akan senang menggunakannya. Hal ini sangat mungkin terjadi karena pengguna baru belum menyadari bahwa GNU/Linux merupakan sistem yang menjunjung tinggi kebebasan. Sedangkan menggunakan format dokumen berlisensi Microsoft berarti termonopoli.

Maka hadirnya Microsoft Office pada sistem GNU/Linux tidak lain hanya memperkuat cengkraman Microsoft di pasar program perkantoran, memonopoli pengguna, dan semakin mengalirkan dolar ke kantongnya. Padahal sistem GNU/Linux itu bebas dan merdeka.

Tentu standarisasi ISO dan SNI untuk OpenDocument Format melalui pertimbangan matang. Dengan menggunakan format dokumen terbuka, pengguna komputer terjaga kebebasannya. Pengguna komputer tidak terpaku pada Microsoft Office saja. Para pengembang perangkat lunak memiliki akses penuh ke format dokumen terbuka. Rakyat di sebuah negara tidak perlu mengalirkan devisa ke satu perusahaan besar.

Inilah mengapa saya tidak berbahagia mendengar rumor yang beredar. Jaga sistem GNU/Linux dari format dokumen tertutup dan berlisensi dan gunakan format dokumen terbuka. Kita masih punya LibreOffice maupun OpenOffice yang bebas dan terbuka. Merdeka!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s