Berlatih Tanpa Shoulder Rest

Mukadimah

Anne Sophie Mutter pernah bilang dalam suatu wawancara, dia perlu waktu 7 tahun sampai merasa benar-benar nyaman dengan aksesoris biolanya: tanpa shoulder rest. Jadi sebenernya butuh waktu yang cukup, bisa saja cukup lama untuk menemukan postur bermain yang nyaman. Kalau merasa cukup nyaman tidak lama setelah memulai bermain biola, Anda sangat beruntung. Saya juga memutuskan tidak menggunakan shoulder rest dan memakai chin rest terkustomisasi setelah berlatih selama 2 tahun, mencoba hanya 2 shoulder rest yang berbeda dan 3 chinrest yang berbeda.

Menurut saya ya, setelah baca-baca di sana sini, shoulder rest sejarahnya agak kurang jelas, siapa penemunya, kapan, dan apa tujuan si pembuat. Monte Belknap bilang mungkin tahun 1930an, tapi ga bilang siapa yang menginvensi. Monte Belknap itu seorang professor biola di Amerika.

Beda dengan chin rest yang diinvensi oleh Louis Spohr di sekitar tahun 1820, seorang pemain biola di masanya. Chin rest dibuat karena karya yang dimainkan semakin susah. Penggunaan chin rest masih sesuai dengan teknik yang telah dikembangkan dari masa sebelumnya. Seperti yang ditulis Michel Corette atau Leopold Mozart di abad 18, memainkan biola dengan bantuan dagu.

Beberapa kesalahan yang terjadi akibat shoulder rest misalnya: (dari sini saya nulis shoulder rest jadi SR ya, biar ga capek)

  1. Dengan bantuan SR, pemain akan memegang biola (hold the instrument), dengan otot leher dan bahu, jadi menyebabkan otot tegang. Kekakuan akibat SR sering engga disadari, karena kita tidak merasa mengangkat bahu dan menegangkan leher, karena gerakan ini ditahan oleh SR. Bentuk badan kita tetap terlihat bagus, tapi sebenernya tegang (hidden tension). Yehudi Menuhin dalam video The Six Violin Lessons menjelaskan bahwa sebenernya biola tidak dipegang, tapi diseimbangkan (balancing).
  2. Tension pada bahu ini menyebabkan ketegangan di banyak tempat lain: punggung, lengan kiri, jari-jari tangan kiri, otot dada, bahkan lengan kanan.
  3. SR mendikte posisi biola pada tubuh kita. Ini tidak bagus, seharusnya kita yang mendikte posisi biola. Ini menyebabkan beberapa kesulitan teknik: bow tidak pararel dengan bridge, bow tidak bisa mencapai ujung (biasanya pemain bertubuh kecil), kesulitan menggesek sampai frog bow (biasanya pemain yang bertubuh tinggi dan berlengan panjang), gesekan bergetar-getar (apa maksudnya? maksud saya yang Bahasa Inggrisnya shaking while drawing the bow), bisa juga menyebabkan kesulitan penjarian (fingering).
  4. Posisi biola juga naik, tidak menempel di tulang selangka. Pada beberapa orang, tangan kanan jadi harus bekerja lebih keras untuk menggesek karena posisi senar lebih tinggi.
  5. Beberapa orang menyatakan SR menyebabkan bunyi biola menjadi lebih tidak natural.

Setelah ratusan tahun, teknik bermain biola berubah karena adanya SR. Jadi, berlatih tanpa menggunakan SR itu penting, karena tanpa sadar mungkin kita melakukan kesalahan-kesalahan di atas.

Kalau Anda mengalami permasalahan-permasalahan seperti otot tegang, otot sakit setelah berlatih, bow tidak pararel terhadap bridge, bergetar, sangat kesulitan mempelajari teknik baru, bahkan masalah musikal seperti tidak bisa mengeksekusi suatu bentuk kalimat dengan konsisten, maka mulai mengecek ketegangan pada tubuh mungkin perlu, dan berlatih tanpa SR akan jadi awal yang baik untuk menyelesaikan permasalahan-permasalahan itu.

Konsep Shoulder Rest

Penting untuk memahami konsep SR. Menggunakan SR agar kita bisa menahan biola (hold the instrument) di bahu kiri dan dijepit menggunakan dagu adalah konsep yang salah, karena menyebabkan ketegangan otot. Biola harus hanya diseimbangkan, di titik tulang selangka dan di tangan kiri. SR hanya memiliki fungsi:

  1. Mencegah biola selip dan jatuh dan rusak ketika shifting dan membantu menstabilkannya ketika vibrato. Tapi ketakutan akan jatuhnya instrumen menyebabkan kita menahan menggunakan otot bahu dan leher, ini jadi tidak benar. Ketika kita sudah bisa menyeimbangkan biola antara tulang selangka dan tangan kiri, ini cukup, SR hanya alat bantu agar tidak selip. Tidak perlu menggunakan tenaga ekstra untuk menahan biola. Cukup ya cukup, enough is enough.
  2. Membantu meletakkan biola pada posisi, sudut, dan kemiringan yang diinginkan sehingga memudahkan permainan.

SR tidak boleh menahan gerakan otot. Semua otot dan sendi kita harus bebas bergerak. Posisi SR tidak disarankan:

  1. Di ujung bahu, daerah ini disebut acromion. Jika daerah ini tertahan, lengan kiri akan tidak bebas dan lengan kanan juga terkena dampaknya.
  2. SR menekan otot dada, menyebabkan lengan kiri maupun kanan tidak bebas.

Kalau mau lebih jelas, Anda bisa membaca website Violinist in Balance. Website ini menurut saya sangat banyak informasi penting untuk pemain biola dan viola.

Yang Diharapkan dari Latihan tanpa SR

  1. Tentu saja yang diharapkan adalah kita bisa menghindari kesalahan-kesalahan yang sudah dijelaskan sebelumnya dan menjadi lebih rileks dari sebelumnya hehehe.
  2. Selain itu latihan ini akan meningkatkan kesensitifan pada tubuh kita (body awareness). Bermain lebih aktif, menggunakan otot-otot yang memang perlu digunakan tanpa membuat otot yang lain tegang. Aktif itu tidak rileks berlebihan. Rileks berlebihan itu pasif, menyebabkan gerakan pasif yang tidak perlu dan tidak terkontrol. Play in an active way!
  3. Tentu saja kita berharap punya progres yang lebih baik dalam pembelajaran.

Berlatih

A. Posisi Bermain dan Teknik Squaring-off

Yang pertama harus kita lakukan adalah mencari posisi bermain yang natural untuk tubuh kita. Permasalahan seperti bow tidak pararel dengan bridge, kesulitan mencapai ujung bow, kesulitan mencapai frog bow, bow bergetar ketika menggesek, kesulitan penjarian bisa terjadi karena posisi biola pada tubuh kita tidak natural dan menyulitkan lengan kanan maupun tangan kiri. Hal ini mungkin terjadi karena dari awal berlatih dengan menggunakan SR dan posisi biola terhadap tubuh didikte oleh SR.

  1. Jangan gunakan SR ketika berlatih!
  2. Berdiri dengan baik dan rileks, kaki dibuka selebar bahu atau secukupnya, bahu rileks, tulang belakang sampai kepala lurus di tempatnya. Cermin yang besar atau seorang partner akan sangat membantu untuk memeriksa. Aktif! Jangan over relax sehingga badan membungkuk atau tegang berlebihan sehingga seperti orang wajib militer. Melakukan pemanasan peregangan fisik sebelumnya sangat baik.
  3. Pegang biola di tangan kiri dan bow ditangan kanan. Pegang biola di bagian neck seperti akan tampil. Badan tetap rileks.
  4. Letakkan biola di tulang selangka, tahan di tulang selangka dan tangan kiri. Postur badan tidak boleh berubah tetap rileks, bahu tidak boleh naik, tidak boleh ditekan turun, leher tidak kaku, kepala tetap menghadap ke depan. Guru, asisten, atau teman akan sangat baik membantu memeriksa. Tulang belikat (shoulder blade – yang menonjol di punggung kanan dan kiri) harus selalu simetri, tulang ini jika lebih menghilang bisa terjadi karena lengan kanan terlalu ditarik ke depan, terlalu menonjol bisa terjadi karena terlalu ditarik ke belakang atau menekan bahu ke bawah. Tension semacam ini secara tidak sadar bisa terjadi karena kebiasaan berlatih menggunakan SR dan sudah dilakukan dalam waktu yang lama dan SR mendikte posisi bahu pemain.
  5. Nengkok ke kiri* sedikit dan atur posisi biola. Dagu pemain tidak perlu sampai menyentuh chinrest/biola. Pemain yang berpostur kecil dan menengah dan tidak berlengan panjang biasanya akan meletakkan biola sehingga posisi tailpiece tepat di bawah dagu. Ini memudahkan mencapai ujung bow dan memudahkan penjarian. Pemain bertubuh tinggi dan berlengan panjang biasanya akan meletakkan biola sehingga posisi dagu di kiri dari tailpiece biola. Ini memudahkan bowing sampai frog.
  6. Letakkan bow di senar A dan di tengah bow.
  7. Squaring-off: bentuk sudut 90 derajat di siku kanan, kemudian bentuk sudut 90 derajat juga antara tangan dan bow. Lihat sudut antara bow dan senar biola, kemudian ubah sudut biola sehingga bow pararel dengan bridge! Ingat yang diubah adalah sudut biola, jangan ubah sudut tangan kanan. Hasilnya ya begitu.
  8. Cobalah menggesek dengan bow penuh full bow. Pastikan bisa mencapai ujung bow dengan mudah dan tidak kesulitan mencapai pangkal bow (frog). Beberapa murid saya dengan mudah bisa menggesek pararel terhadap bridge setelah melalui prosedur ini dengan catatan perlu latihan untuk kontrol lebih baik dan untuk konsistensi. Ini terjadi karena posisi biola sudah cukup natural untuk pergerakan tangan kanan.
  9. Selalu cek postur badan agar selalui baik! Tidak boleh ada perubahan akibat ketegangan yang tidak perlu. Jangan pernah menyentuh badan belakang biola dengan bahu, kecuali postur badan secara naturan membuat bahu menyentuh badan biola.

*Menengok: ketika kepala menengok, tulang leher harus tetap lurus, tidak boleh miring. Gerakan sesedikit mungkin dan gunakan otot yang ada di puncak leher, itu perbatasan antara kepala dan leher. Kita bisa melatihnya dengan posisi berdiri baik seperti biasa, kemudian lirikan mata saja ke kiri baru diikuti gerakan menoleh ke kiri. Kemudian lirikan mata ke depan diikuti gerakan menoleh ke depan ke posisi semula. Latih juga untuk ke kanan.

Memposisikan leher selalu lurus secara natural dan kepala di ujung tulang belakang (on top of spine) adalah dasar dari keseimbangan manusia. Kalo posisi ini dilanggar, maka keseimbangan manusia akan terganggu. Ini menurut Alexander Technique ya. Eh iya ga ya? Ga yakin. Saya berharap ada guru Alexander Technique di Indonesia tercinta dan dengan senang hati saya akan mengambil kelas. Agar pernyataan ini lebih meyakinkan hehe.

B. Yaudah Terus Latihan Aja!

Setelah menemukan posisi yang natural untuk tubuh kita, ya lanjutkan saja latihan. Tentu saja ada hal-hal yang perlu diperhatikan:

  1. Tanpa shoulder rest!
  2. Waktu yang cukup, mungkin 2-4 pekan cukup, bisa ditambah kalau kurang.
  3. Dukungan pihak pihak terkait. Misalnya guru yang mendukung sehingga tidak menuntut target lain yang menyulitkan.
  4. Latih hal-hal dasar, merubah posisi biola akan mengubah teknik bermain, dan mungkin akan merubah hal hal dasar. Menggesek , penjarian terasa berbeda dan sebagainya. Latih gesek pararel, dan latihan dasar seperti tangga nada exercise semisal Schradieck awal. Latihan yang terlalu susah di fase awal akan mengganggu konsentasi yang pada akhirnya mengganggu konsentrasi untuk selalu merasakan apa yang terjadi di tubuh kita.
  5. Jangan coba coba mengangkat bahu sehingga nempel di badan biola! Ini sulit tapi sangat penting dan esensial.
  6. Sabar sabar sabar.
  7. Belilah jam dinding, jam bigben, timer atau penanda waktu yang lain. Atur waktu latihan sehingga selalu beristirahat selama 1 sampai 3 menit setelah latihan 10 menit. Untuk menjaga stamina dan konsentrasi sehingga body awareness tidak terganggu.
  8. Ketegangan fisik yang mungkin akan tegang dan perlu diperhatikan:
  • Gigi tidak menggigit, mungkin terjadi karena kebiasaan lama menekankan dagu ke chinrest secara berlebihan.
  • Dagu, Tahan biola dengan dagu hanya jika perlu! misal shifting dan vibrato.
  • Leher agar kepala menengok dengan baik dan tidak kaku, leher bisa sambil dibebaskan boleh nengok kanan kiri ketika main
  • Bahu kiri tidak diangkat, kanan juga
  • Lengan dan tangan mungkin akan tegang jadi cukup dirasakan
  • Punggung tidak kaku dan simetri dan tidak membungkuk atau lawannya membungkuk (apa namanya?)
  • Kaki kanan dan kiri, selalu berdiri dengan seimbang, berat tubuh ditopang dua kaki, bukan kanan aja atau kiri aja

C. Membuat Perubahan

Setelah melakukan latihan di atas, dan merasa akan mulai latihan dengan ‘normal’ lagi. Jadi ada yang harus dipikirkan dan dilakukan:

  1. Pakai SR atau tanpa SR. Keputusan Anda. Menurut saya menggunakan SR itu oke saja, asal harus dengan konsep yang benar seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. Setelah latihan tanpa SR, Anda akan bisa merasakan betapa rileksnya badan Anda, tidak perlu lagi menahan biola menyusahkan otot leher dan bahu. Tidak menggunakan SR itu alangkah cantiknya.
  2. Perubahan aksesori: chin rest. Ini penting, chin rest akan mengisi ruang antara biola dan dagu. Panjang leher dari tulang selangka sampai dagu harus setara dengan tebal instrumen ditambah tinggi chinrest dikurangi sedikit untuk memberi ruang gerak kepala. Ini membantu kita agar menjaga leher tetap lurus. Ingin chin rest di posisi tertentu, dengan tinggi tertentu, dll. tentu tidak ada solusi lain selain Anda beli sesuai keinginan. Atau pergi ke luthier favorit dan minta dibuatkan sesuai keinginan. Minta pengrajin untuk membuatkan bisa saja lebih murah dari membeli mengingat di Indonesia susah menemukan chinrest yang aneh aneh. Dan juga bisa lebih sesuai.

    Chin Rest

    Chin Rest yang saya pesan ke seorang luthier di Bandung

  3. Perubahan aksesori: shoulder rest. Kalau model tidak sesuai ya saya tidak tau solusinya, beli lagi deh. Atau Anda bisa membuat sendiri dari spons.
  4. Jika memutuskan bermain tanpa SR. Teknik bermain tanpa SR tentu berbeda dari teknik dengan SR. Terutama yang menjadi kesulitan adalah shifting. Video ini mungkin membantu. Juga bisa dilatih shifting dengan memainkan tangga nada dan arpegio di satu senar dengan satu jari dan dua jari. Lihat juga Six Violin Lessons oleh Yehudi Menuhin. Awareness pada jempol kiri akan menjadi baik. Jika menggunakan SR teknik tidak berubah dari sebelumnya. Ingat posisi SR yang baik dan tidak mengganggu kerja otot.
  5. SR untuk mengkompensasi jarak antara tulang selangka dan dagu: Ini mungkin menjadi solusi bagi beberapa orang. Tetap harus diingat konserp SR yang benar. Dan perlu diperhatikan pekerjaan tangan kanan akan berbeda dari latihan ketika tanpa SR karena posisi biola lebih tinggi jika jarak tulang selangka ke dagu dikompensasi SR. Latih lagi lengan kanan menggesek pararel. Ingat posisi SR yang baik dan tidak mengganggu kerja otot. Pastikan tidak kesulitan mencapai ujung dan pangkal bow.

Alhamdulillah Selesai Nulisnya (? – mungkin nanti perlu revisi)

Ada harapan dan keinginan yang saya harap dan inginkan:

  1. Semoga suatu saat bisa mengambil kelas Alexander Technique, ini akan bagus buat saya sendiri dan untuk bisa mengajar lebih baik.
  2. Saya berharap bisa bikin chinrest testing kit supaya bisa membantu untuk orang-orang membuat chinrest yang sesuai dengan kebutuhan.
  3. Semoga tulisan ini membantu teman-teman apalagi saya sendiri untuk bermain lebih baik!

Selamat berlatih, saya juga berlatih!ūüôā

Python dan Teknologi Masa Depan

Seminggu yang lalu, setelah menonton teman yang sidang Tugas Akhir, ada adik kelas yang bilang, sekarang anak-anak lagi pada belajar Python. Gara-garanya kalau ga salah, mereka mainan Raspberry Pi.

Wah.

Padahal saya dulu belajar itu hampir 3 tahun yang lalu, menyadari waktu itu bahwasanya Python adalah salah satu bahasa pemrograman yang penting. Ya, meskipun sepertinya sekarang telah lupa, kebanyakan menggosok menggesek gigi biola.

Manusia-manusia yang belajar dan bekerja di bidang teknologi tentu saja sebaiknya selalu selangkah seratus langkah di depan. Beda dengan pemain biola, dia masih pakai buku pelajaran yang ditulis mungkin ratusan tahun yang lalu.

Apalagi kalau bisa memprediksi teknologi beberapa tahun ke depan, itu jiniyus! Mirip Steve Jobs.

Siapa yang belajar algoritma pakai Pascal?

Selamat belajar Python, pasti menyebalkan menyenangkan!

Concerto dan Etude

Urutan-urutan Concerto dan Etude untuk seorang murid biola, menurut Simon Fischer dalam artikelnya, The English School of Violin Playing.

Concerto:

1. Rode / Spohr / Haydn / Viotti / DeBeriot / Bach / Mozart No. 2 atau 3

2. Bruch No. 1

3. Bruch No. 2 / Mozart No. 4 atau 5 + Pieces: Bruch Scottish Fantasy / Lalo Symphonie Espagnole

4. Wieniawski No. 2 / Saint Saens No. 3

5. Mendelsohn

6. Vieuxtemps No. 4 & No. 5 / Wieniawski No. 1

7. Paganini No. 1

8. Tchaikovsky / Sibelius

9. Brahms

Etude:

1. Semua Kreutzer

2. Semua Rode

3. Semua Dont Op. 35

4. Minimal setengah Gavinies Caprices

5. Wieniawski¬†L’Ecole Moderne

6. Paganini 24 Caprices

‘Radar Exercise’ dari Prof. Terje Moe Hansen untuk Berlatih Oktaf

Dulu itu, awal bulan Agustus 2014, saya ikut¬†Music Camp¬†yang diadakan sama Ekstensya. Selama¬†music camp¬†waktu itu, diajari banyak hal sama¬†Prof. Terje Moe Hansen. Beliau ini profesor biola di¬†Malm√ł Academy of Music dan Norwegian State Academy of Music.

Prof. Terje ini menulis sebuah metode untuk mempelajari shifting ke semua interval yang mungkin di alat musik gesek. Metode ini dibuat agar shifting ke semua tempat di fingerboard jadi aman, tingkat presisi yang sama baiknya di semua not. Tentu saja Prof. Terje waktu itu mengajarkan metode ini pada kami.

Metode ini secara umum bisa kita tonton di video YouTube berikut.

Salah satu latihan yang saya ingat baik-baik itu ‘Radar Exercise’. Aduh saya malas menjelaskan apa itu¬†Radar Exercise.¬†Kalau sudah nonton video di atas pastinya sudah tau lah ya.

Pada suatu hari sampailah pembelajaran biola saya di materi oktaf (double stop). Memainkan oktaf itu purely shifting, selalu shifting meskipun jaraknya cuman setengah. Eh, meskipun ada juga yang main oktaf ga banyak shifting, pakai jari 1 dan 3, kemudian not major/minor 2nd pakai jari 2 dan 4 seperti Alexander Markov. Ya buat saya yang amatir tentu saja sebaiknya saya pakai jari 1 dan 4 dan shifting, kalau mau meniru Alexander Markov kapan-kapan lah.

Balik lagi, karena main oktaf itu purely shifting saya berpikir untuk menggunakan Radar Exercise dari Prof. Terje untuk latihan oktaf. Yah begitulah, jadi kalau saya sedang latihan oktaf, saya mulai dengan latihan tangga nada dalam oktaf, biasalah D mayor:

scaleoktaf

Kalau sudah lumayan bagus, coba deh Radar Exercise dimainkan dalam oktaf:

radar1

radar2radar3

Menulis Radar Exercise ini dalam bentuk oktaf sudah dapat ijin dari Prof. Terje. Beliau juga berpesan:

You can use all interval double stop, octaves thirds etc. with the radar exercise. To work with the sound: use all kind of relaxing exercises to open the mobility to all joint.

Itu artinya apa? Silahkan terjemahkan dan selamat berlatih!

PS: Radar exercise ini satu dari banyak lagi exercises yang ditulis oleh Prof. Terje Moe Hansen. Untuk dapat info yang lebih banyak pergi saja ke website Prof. Terje: http://terjemoehansen.com/

Sangat Luas…

Surga itu luas sekali, seluas langit dan bumi. Padahal langit saja kita tidak tahu seluas apa. Seandainya semua manusia yang pernah hidup itu masuk surga, surga tidak akan terasa sempit.

Jadi tidak perlu iri dan menjatuhkan orang lain yang sholeh, calon penghuni surga. Karena kalaupun banyak orang lain yang sholeh kemudian masuk surga, pasti masih ada ruang tersisa yang masih sangat luas buat kita. Jadi yang perlu dilakukan adalah menjadi sholeh juga, supaya kita sendiri masuk surga bersama yang lain.

Rejeki Allah juga sangat luas, kita tidak mampu menghitungnya. Rejeki-Nya akan selalu cukup untuk semua makhluk di bumi. Kalau orang lain sukses di suatu hal, rejeki Allah tidak akan habis sampai di situ, tentu juga masih sangat banyak sekali tersisa untuk kita.

Jadi tidak perlu menjatuhkan orang lain agar kita kebagian rejeki kan? Karena sejatinya memang tidak terbatas. Yang perlu dilakukan adalah kita berusaha sekuat tenaga untuk mendapat rejeki Allah supaya diri kita sendiri kebagian, sehingga menjadi berkecukupan seperti orang lain yang juga berusaha.

Saya sekarang berusia lebih dari 20, mungkin cukup tua untuk seorang pembelajar biola dalam standar masa ini. Saya juga sadar banyak sekali orang lain yang berusia sama bahkan lebih muda yang bisa bermain jauh lebih baik. Tapi dengan pemahaman seperti di atas, bukan tidak mungkin saya akan sukses di kemudian hari, bersama-sama orang lain yang berusaha sekuat tenaga. Yang penting berusaha keras untuk belajar dan terus berlatih, tidak menyerah.

Saya tidak berpikir bahwa hidup ini adalah kompetisi, tapi saya lebih setuju bahwa dalam hidup, siapa yang berusaha akan mendapat balasan yang sepadan. Tidak seperti kompetisi yang walaupun Anda tidak berkualitas baik, bisa jadi Anda menang, asalkan yang lain tidak lebih baik dari Anda.

Apapun yang sedang kita usahakan dan kita menyukainya, jangan berhenti melakukannya. Meskipun berat tidak akan berarti karena kita senang. Berusaha terus, Allah akan memberi hadiah atas usaha dan doa kita.

Lulus Tepat Waktu Nilai Bagus, Apa Itu Orang Hebat?

Ketika kita kuliah kemudian dapat menyelesaikan dgn baik. Misal lulus tepat waktu, cumlaude, Tugas Akhir terbaik, dan prestasi-prestasi lain, apakah itu berarti kita lebih unggul dari yang lain? Apakah yang lulusnya lama adalah mahasiswa bodoh?

Atau, kita seorang pegawai suatu perusahaan, kerja bagus sepenuh hati, lebih cepat naik jabatan. Apakah itu berarti kita manusia yang lebih unggul dibanding yang lain?

Sepertinya iya, orang-orang itu terlihat lebih hebat dari yang lain.

Tapi, saya mau berpendapat, saya tidak setuju. Saya ingat pakar IT dan pendukung perangkat bebas merdeka, Onno W. Purbo berpendapat yang isinya: yang susah itu bukan jadi ahli, itu kan tinggal belajar saja, yang susah justru menemukan apa yang kita suka.

Jadi saya menganggap orang-orang yang terlihat hebat dari orang lain itu sebenarnya tidak hebat-hebat amat. Bukan hebat, tapi beruntung. Beruntung karena diberi bakat. Beruntung karena Allah Yang Maha Kuasa menunjukkan jalan sehingga orang-orang hebat tadi menemukan passion mereka. Coba deh orang-orang ga nemu apa kesukaan masing-masing, apakah pekerjaan mereka akan dilakukan sepenuh hati?

Tapi ketika passion sudah ditemukan, ya jelas ada keinginan menjadi hebat sesuai passion. Lebih besar kemungkinan menjadi sukses.

Intinya, tidak ada manusia yang lebih hebat dari yang lain, lebih mulia dari manusia yang lain. Yang ada orang-orang yang beruntung dan belum beruntung.

Yang beruntung artinya harus menjadi manusia yang lebih banyak bersyukur. Allah sudah menunjukkan di mana kesukaan kita, itu keberuntungan yang besar. Kita bersyukur juga dengan tidak menyia-nyiakan keberuntungan itu: kerjakan yang disuka sepenuh hati, sebaik semampu kita. Dan berdoa supaya dimudahkan agar banyak memberi manfaat dengan melakukan apa yang disuka.

Yang belum beruntung juga bersyukur: mungkin harus banyak berusaha, mencari, mencoba banyak hal, sampai ada yang sesuai kesukaan hati. Dan berdoa, semoga Allah memudahkan jalannya.

Saya jadi ingat doanya Pidi Baiq:

Ya Allah, jadikan pikiran kami melangit dengan hati yang tetap membumi