Simple Shift Exercises

I was a lazy person, a lazy violin student. I still am. When I had to practice shifting using books, any book, my laziness said, “don’t do that.” I was so lazy to read and Schradieck or any other books available at that time. (This laziness to read may be one of the causes of my bad sight read *cry in G minor Adagio). So I decided to just read more about shifting and find out important points about it.

Simon Fischer explained in various accounts that there are two common mistakes in shifting: the arm move in an incorrect distance and the finger misplaced. Other things come to my mind: we seldom play only a single note after shifting to new position which means our left hand must be ready to play in the new position and shifting must be secure using any finger.

With these in mind, I started to play my own shifting exercise. A very simple exercise. Here is an example of the exercise for first and third position:

shift_exercise

With this exercise we practice all important things explained before:

  1. To ‘measure’ correct distance using left arm movement, and also place finger correctly
  2. To securely shift with any finger. All fingers are trained to be ‘destination’ of shifting, whether to third and first position
  3. To be ready to play other notes in tune in the new position.

The exercise is not limited. You can make so many variations and improvisations, based on your own need. You can play A1(first measure of A) then B2(second measure of B) or C1 then A2, A1 then B2 to A1 to C2 to A1 to D2, any combination you like. You can also use it for many other positions, first to third, first to third to fifth to seven, or the even positions first to second, to fourth. You can also jump to ‘not systematics position’ like from first to fifth than to sixth to fourth, etc. I used to play all positions up to seventh. You can also change the key, probably match the with the key you’re currently studying.

Additional tips:

  1. Practice slowly!
  2. Finger placement must be very consistent. See a demonstration by Prof. William Fitzpatrick
  3. Sing the notes you want to play to help the intonation

This blog post is of course my own experience in studying violin. May works for you, may not. You probably have better exercises than mine! As an musical instrument student we have to experiment many things, but only pick one or few things that work for us. And more importantly, have a better understanding of problem we face. Happy practicing!

Bermain dengan Tangan Kiri yang Dinamis

Teknik ini mungkin saja tidak bekerja untuk semua orang.

Bermain tanpa shoulder rest menurut saya sangat menguntungkan. Shifting harus dilakukan dengan teknik yang berbeda. Baik memindahkan jempol dulu, atau jari dulu. Kebiasaan ini menjadikan kita terlatih, tangan kiri bergerak dengan kesadaran lebih, berubah-ubah secara dinamis untuk mencari bentuk paling efisien pada passage tertentu. Bukan hanya pada shifting, tapi juga kord, fingering yang rumit maupun interval yang jauh. Sedang bermain dengan shoulder rest membuat tangan kiri lebih rigid, karena kebanyakan shifting dilakukan hanya dengan gerakan lengan, dengan form tangan kiri yang lebih rigid.

Untuk memahami bagaimana saya bermain tanpa shoulder rest, silahkan baca tulisan sebelumnya ‘Berlatih Tanpa Shoulder Rest’.

Mari lihat kord berikut:

Kord ini ditulis dalam D mayor. Sehingga komponen kord adalah: A3-D4-B4-F#4.

Fingering apa yang terpikirkan? Pertama kali saya melihat kord ini saya terpikir fingering: 1-0-2-2. What do you think? 

Ini adalah kord suatu passage di karya Bach untuk solo biola yang terkenal, Chaconne dari Partita no. 2. Memang sulit ya, mengingat bagian ini harus dimainkan arpeggio, artinya jari-jari harus tetap memencet nada.

Mari lihat juga kord sebelumnya:

(Ingat passage ini ditulis dalam D mayor). Sepertinya kord sebelumnya (kord B minor) kita akan setuju dengan fingering: 2-0-1-1. Jadinya saya juga berpikir fingering yg paling efisien untuk kord di ketukan ketiga juga 2-0-1-1. Kita mengekstens jari 2 ke belakang. Bagi saya ini bentuk tangan yang tidak biasa. Tapi ini efisien, mengingat kita berpindah dari kord sebelumnya yang menggunakan fingering yang sama. Bagi saya posisi ini juga memudahkan senar D tidak tersentuh jari lain, daripada fingering: 1-0-2-2.

Kita bisa melakukan ini tanpa biola:

Jadi kita juga bisa melakukan ini:

Di Chaconne karya Bach ini juga akan banyak kita temukan hand-twister di tempat lain. Juga di banyak tempat di 6 Sonata dan Partita milik Bach. Memang diperlukan form tangan kiri yang dinamis untuk memainkan Sonata dan Partita. Dan lagi-lagi, berlatih tanpa shoulder rest memudahkan melatih form tangan kiri yang dinamis. Tanpa shoulder rest, ekstensi dan form tangan kiri yg dinamis sangat penting untuk shifting.  Dengan terlatihnya mengubah form tangan kiri untuk shifting, akan lebih mudah juga mengubah form tangan kiri untuk keperluan lain.

Mari kita lihat juga potongan dari 1st violin Dvorák Symphony no. 8, bagian ke-4 berikut:

Bagaimana fingering untuk passage ini? Terutama di birama keempat (not quaver). Kalau saja intervalnya oktaf mungkin kita tidak terlalu pusing. Tapi ini tidak oktaf, kita harus berpikir cara lain. Ini fingering yang saya gunakan:

Semoga jelas ya gambarnya. Untuk lebih jelasnya, mari ambil gambar dari fingering ini, untuk menghemat, kita ambil gambar jari untuk birama ke empat:

Dengan teknik ini, lengan kiri selalu pada posisi tetap, namun tangan kiri dan jari yang dinamis. Dengan teknik ini, bisa dikatakan tidak dilakukan shifting sama sekali. Perpindahan dari not B flat ke G flat akan jadi relatif lebih aman, karena jari 1 menjadi patokan perpindahan jari 3, not E flat yg lebih rendah juga bisa dilatih dengan waktu relatif singkat, mengingat ekstensi ke belakang terdapat pada banyak latihan-latihan lain. Melakukan shifting tangan kiri ke belakang dengan tangan seluruhnya melalui gerakan lengan menurut saya lebih beresiko terlebih pada passage semacam ini, yang intervalnya tidak biasa.

Teknik ini mungkin memang tidak bekerja untuk semuanya. Tapi semoga berguna, memberikan ide baru untuk menyelesaikan masalah dengan kreatifitas yang kita punya.

Semoga tulisan dan gambar-gambarnya bisa dipahami 🙂

*music sheets are from imslp.org

Namanya Chinrest

Artikel ini mungkin tidak bekerja untuk semua orang. 

Agak lucu memang, dulu waktu saya masih SD di Magetan, anak-anak menyebut motorcycle dengan honda. Padahal honda itu merk motor, tapi anehnya orang-orang bilangnya itu honda, jadi semua motor, mau merknya apapun disebutnya tetep honda. Ini jadi guyonan ketika kami sudah besar. Tentu saja buat orang yang tidak paham bahasa kami waktu itu jadi aneh dan bisa membingungkan kalo ada motor suzuki tapi anak-anak bilang itu honda.
Sebuah penyebutan atau penamaan kadang memang bisa membuat salah persepsi. Salah persepsi mungkin bisa mengakibatkan hal lain jadi lebih parah. Reaksi berantai.

Kalo kita ngobrolin chinrest, sepertinya akan banyak orang berpikir benda ini adalah tempat seorang pemain biola meletakkan dagu. Ini lumayan benar. Tapi buat saya, yang harusnya menempel di chinrest itu bukan cuma dagu, tapi juga sebagian tulang rahang bawah sebelah kiri. Jadi kalau mau sangat presisi, sebaiknya namanya chin-jaw rest, bukan chinrest.
Kesalahpahaman meletakkan hanya dagu di chinrest ini menyebabkan postur menjadi tidak bagus. Leher jadi melintir. Kepala jadi miring ke kanan, tapi menengok ke kiri. Ini terutama terjadi kalau chinrest yang digunakan model yang dipasang di sebelah kiri tailpiece (side mounted). Lihat ilustrasi di bawah.

Gambar dari Google.

Saya melihat cukup banyak pemain biola main dengan postur ini, di berbagai level. Ini menyebabkan terjadi banyak masalah lain, baik tangan kanan maupun kiri, mengingat leher adalah pusat koordinasi.
Bagian mana yg menyentuh chinrest memang relatif, tergantung bentuk dagu, posisi instrumen, posisi chinrest. Tapi kebanyakan chinrest meskipun center mounted tapi biasanya tetep lebih melebar ke kiri tailpiece. Jadi seringkali sebagian rahang juga menempel. 
Kata Simon Fischer tiap gerakan sebaiknya independen. Ketika biola ditaruh dalam posisi main, yang harus bekerja hanya tangan kiri yg menahan neck instrumen. Bagian tubuh yg lain harus tetap bebas, leher rileks, bahu tidak naik, dll.

The key to mastering the violin is not allowing unwanted extra physical movements to occur as a knock-on effect or by-product of actions that are actually needed. This includes any unnecessary tension or overwork. Every action must occur in isolation without anything else in the surrounding areas reacting. For example, when you are pressing the bow into the string, do not use a single muscle in your bow arm that is not required to push the wood down towards the hair and to push the hair into the string. Simon Fischer, The Strad, June 2012.

Untuk mengoreksi permasalahan ini tentu yg dilakukan adalah mengoreksi bagaimana kita menggunakan badan kita dengan baik. Pastikan kepala dan leher dalam posisi bagus dan lurus, nengok secukupnya ke kiri dan mengangguk seperlunya. Biasanya saya meletakkan berat kepala secukupnya sampai kalau saya vibrato, instrumen tidak ikut gerak. Selama passage yang tidak rumit dan dalam satu posisi, berat kepala bisa dikurangi sampai hampir chin-off.  

Gambar dari violinistinbalance.nl

Keep your head nice and up, be proud playing your instrument.

Memahami Hal Baru

Agustus 2014, waktu itu Pulau Jawa tidak mengalami musim hujan sepanjang tahun seperti tahun ini. Jadi waktu itu engga lagi hujan-hujanan. Kami sedang di situs wisata Candi Sukuh, di mana Prof. Terje Moe Hansen memberikan pelajaran-pelajaran biola dan musik kamar untuk Ekstensya Music Camp.

Suatu sore matahari mulai berwarna orens memerah. Prof. Terje Moe Hansen mengambil gambar matahari terbenam menggunakan kamera smartphone miliknya. Matahari sore itu cantik karena tidak tertutup mendung. Salah satu teman, Halida, saat ini siswa di ISI Yogyakarta, mulai berbincang dengan Profesor tentang banyak hal, terutama teknik bermain biola. Kami pun mulai mendekat menggerombol dan ikut mendengar. Tentunya mereka berbincang dalam Bahasa Inggris.

Saya ingat beberapa percakapan. Salah satunya membahas cara memegang biola. Profesor menjelaskan, semakin kuat kita menekan instrumen di antara dagu dan bahu kita, suara biola akan semakin banyak teredam. Kemudian Profesor mempergakannya dengan memegang badan biola dengan tangan kiri sehingga ibu jari menempel di badan belakang biola, dan keempat jari lain menempel di badan atas dan menggesek senar  kosong. Suara biola teredam. Profesor memindahkan tangannya dari badan biola untuk membandingkan dengan suara yang tidak teredam.

Jadi bagaimana cara kita memegang biola? Profesor bilang, “support it with your left hand.”

Saat itu saya cuma berpikir, “kan sekarang udah bisa main dengan cara sekarang, badan juga rileks ketika main.” Waktu itu saya main pakai shoulder rest. Jadi kata-kata Profesor tadi membingungkan. Karena menurut saya waktu itu, memegang biola ya ditahan dengan dagu dan bahu dengan bantuan shoulder rest. Jadi waktu itu saya menolak pendapat Profesor. Sombong sekali ya, gila.

Sampai akhirnya setahun kemudian, Agustus 2015, bahu dan leher saya sakit. Baru sadar dan mengakui kalau selama itu cara main saya kurang benar. Saya harus menerima akibat dari kesombongan diri sendiri. 

Setelah melalui rasa sakit, berbagai video, banyak artikel, riset, dan diskusi orang-orang di forum, baru saya paham kata-kata Profesor setahun sebelumnya, “support the instrument with your left hand.” Tulisan yang lebih rinci mengenai ini ada di artikel saya sebelumnya.

Ternyata saya menyimpan sifat sombong dan sok tau yang membuat saya terhalang dari memahami hal baru. Dalam kasus ini, bahkan hal baru ini ternyata membukakan saya pada banyak hal lain. Mempelajari teknik baru jadi lebih mudah, intonasi dilatih dalam waktu jauh lebih singkat, rasa sakit berkurang, dsb. 

Saat music camp 2 tahun yg lalu Profesor juga bilang, mencari postur untuk tangan kiri sebaiknya dimulai dari jari 4 ke jari 1. Bukan jari 1 ke jari 4. Lagi-lagi saya sombong karena merasa udah bisa. 

Setelah 2 tahun saya baru paham hal ini. Dan ternyata cara berpikir ini membuka gerbang untuk mempelajari teknik yang saya kira saya ga akan bisa lakukan sampai kapanpun, interval 10 dan fingered oktaf. Lebih jelasnya, nonton saja video dari Profesor biola lain, Prof. William Fitzpatrick.

Jadi penting untuk kita di level manapun kita, untuk merendahkan hati dan merasa bodoh. Mau mendengar apa kata orang lain, siapapun itu. Mungkin bagi saya main biola juga bukan hanya tentang apa yg saya sampaikan melalui bunyi, tapi juga untuk lebih bisa mendengar. Mungkin kita ga langsung paham sesuatu, tapi mungkin pengetahuan baru dari orang lain suatu hari ternyata bisa membuka gerbang ke pengetahuan yang lebih luas. Siapa yang tau. 

Selamat saling dengar!

Berlatih Tanpa Shoulder Rest

Mukadimah

Anne Sophie Mutter pernah bilang dalam suatu wawancara, dia perlu waktu 7 tahun sampai merasa benar-benar nyaman dengan aksesoris biolanya: tanpa shoulder rest. Jadi sebenernya butuh waktu yang cukup, bisa saja cukup lama untuk menemukan postur bermain yang nyaman. Kalau merasa cukup nyaman tidak lama setelah memulai bermain biola, Anda sangat beruntung. Saya juga memutuskan tidak menggunakan shoulder rest dan memakai chin rest terkustomisasi setelah berlatih selama 2 tahun, mencoba hanya 2 shoulder rest yang berbeda dan 3 chinrest yang berbeda.

Menurut saya ya, setelah baca-baca di sana sini, shoulder rest sejarahnya agak kurang jelas, siapa penemunya, kapan, dan apa tujuan si pembuat. Monte Belknap bilang mungkin tahun 1930an, tapi ga bilang siapa yang menginvensi. Monte Belknap itu seorang professor biola di Amerika.

Beda dengan chin rest yang diinvensi oleh Louis Spohr di sekitar tahun 1820, seorang pemain biola di masanya. Chin rest dibuat karena karya yang dimainkan semakin susah. Penggunaan chin rest masih sesuai dengan teknik yang telah dikembangkan dari masa sebelumnya. Seperti yang ditulis Michel Corette atau Leopold Mozart di abad 18, memainkan biola dengan bantuan dagu.

Beberapa kesalahan yang terjadi akibat shoulder rest misalnya: (dari sini saya nulis shoulder rest jadi SR ya, biar ga capek)

  1. Dengan bantuan SR, pemain akan memegang biola (hold the instrument), dengan otot leher dan bahu, jadi menyebabkan otot tegang. Kekakuan akibat SR sering engga disadari, karena kita tidak merasa mengangkat bahu dan menegangkan leher, karena gerakan ini ditahan oleh SR. Bentuk badan kita tetap terlihat bagus, tapi sebenernya tegang (hidden tension). Yehudi Menuhin dalam video The Six Violin Lessons menjelaskan bahwa sebenernya biola tidak dipegang, tapi diseimbangkan (balancing).
  2. Tension pada bahu ini menyebabkan ketegangan di banyak tempat lain: punggung, lengan kiri, jari-jari tangan kiri, otot dada, bahkan lengan kanan.
  3. SR mendikte posisi biola pada tubuh kita. Ini tidak bagus, seharusnya kita yang mendikte posisi biola. Ini menyebabkan beberapa kesulitan teknik: bow tidak pararel dengan bridge, bow tidak bisa mencapai ujung (biasanya pemain bertubuh kecil), kesulitan menggesek sampai frog bow (biasanya pemain yang bertubuh tinggi dan berlengan panjang), gesekan bergetar-getar (apa maksudnya? maksud saya yang Bahasa Inggrisnya shaking while drawing the bow), bisa juga menyebabkan kesulitan penjarian (fingering).
  4. Posisi biola juga naik, tidak menempel di tulang selangka. Pada beberapa orang, tangan kanan jadi harus bekerja lebih keras untuk menggesek karena posisi senar lebih tinggi.
  5. Beberapa orang menyatakan SR menyebabkan bunyi biola menjadi lebih tidak natural.

Setelah ratusan tahun, teknik bermain biola berubah karena adanya SR. Jadi, berlatih tanpa menggunakan SR itu penting, karena tanpa sadar mungkin kita melakukan kesalahan-kesalahan di atas.

Kalau Anda mengalami permasalahan-permasalahan seperti otot tegang, otot sakit setelah berlatih, bow tidak pararel terhadap bridge, bergetar, sangat kesulitan mempelajari teknik baru, bahkan masalah musikal seperti tidak bisa mengeksekusi suatu bentuk kalimat dengan konsisten, maka mulai mengecek ketegangan pada tubuh mungkin perlu, dan berlatih tanpa SR akan jadi awal yang baik untuk menyelesaikan permasalahan-permasalahan itu.

Konsep Shoulder Rest

Penting untuk memahami konsep SR. Menggunakan SR agar kita bisa menahan biola (hold the instrument) di bahu kiri dan dijepit menggunakan dagu adalah konsep yang salah, karena menyebabkan ketegangan otot. Biola harus hanya diseimbangkan, di titik tulang selangka dan di tangan kiri. SR hanya memiliki fungsi:

  1. Mencegah biola selip dan jatuh dan rusak ketika shifting dan membantu menstabilkannya ketika vibrato. Tapi ketakutan akan jatuhnya instrumen menyebabkan kita menahan menggunakan otot bahu dan leher, ini jadi tidak benar. Ketika kita sudah bisa menyeimbangkan biola antara tulang selangka dan tangan kiri, ini cukup, SR hanya alat bantu agar tidak selip. Tidak perlu menggunakan tenaga ekstra untuk menahan biola. Cukup ya cukup, enough is enough.
  2. Membantu meletakkan biola pada posisi, sudut, dan kemiringan yang diinginkan sehingga memudahkan permainan.

SR tidak boleh menahan gerakan otot. Semua otot dan sendi kita harus bebas bergerak. Posisi SR tidak disarankan:

  1. Di ujung bahu, daerah ini disebut acromion. Jika daerah ini tertahan, lengan kiri akan tidak bebas dan lengan kanan juga terkena dampaknya.
  2. SR menekan otot dada, menyebabkan lengan kiri maupun kanan tidak bebas.

Kalau mau lebih jelas, Anda bisa membaca website Violinist in Balance. Website ini menurut saya sangat banyak informasi penting untuk pemain biola dan viola.

Yang Diharapkan dari Latihan tanpa SR

  1. Tentu saja yang diharapkan adalah kita bisa menghindari kesalahan-kesalahan yang sudah dijelaskan sebelumnya dan menjadi lebih rileks dari sebelumnya hehehe.
  2. Selain itu latihan ini akan meningkatkan kesensitifan pada tubuh kita (body awareness). Bermain lebih aktif, menggunakan otot-otot yang memang perlu digunakan tanpa membuat otot yang lain tegang. Aktif itu tidak rileks berlebihan. Rileks berlebihan itu pasif, menyebabkan gerakan pasif yang tidak perlu dan tidak terkontrol. Play in an active way!
  3. Tentu saja kita berharap punya progres yang lebih baik dalam pembelajaran.

Berlatih

A. Posisi Bermain dan Teknik Squaring-off

Yang pertama harus kita lakukan adalah mencari posisi bermain yang natural untuk tubuh kita. Permasalahan seperti bow tidak pararel dengan bridge, kesulitan mencapai ujung bow, kesulitan mencapai frog bow, bow bergetar ketika menggesek, kesulitan penjarian bisa terjadi karena posisi biola pada tubuh kita tidak natural dan menyulitkan lengan kanan maupun tangan kiri. Hal ini mungkin terjadi karena dari awal berlatih dengan menggunakan SR dan posisi biola terhadap tubuh didikte oleh SR.

  1. Jangan gunakan SR ketika berlatih!
  2. Berdiri dengan baik dan rileks, kaki dibuka selebar bahu atau secukupnya, bahu rileks, tulang belakang sampai kepala lurus di tempatnya. Cermin yang besar atau seorang partner akan sangat membantu untuk memeriksa. Aktif! Jangan over relax sehingga badan membungkuk atau tegang berlebihan sehingga seperti orang wajib militer. Melakukan pemanasan peregangan fisik sebelumnya sangat baik.
  3. Pegang biola di tangan kiri dan bow ditangan kanan. Pegang biola di bagian neck seperti akan tampil. Badan tetap rileks.
  4. Letakkan biola di tulang selangka, tahan di tulang selangka dan tangan kiri. Postur badan tidak boleh berubah tetap rileks, bahu tidak boleh naik, tidak boleh ditekan turun, leher tidak kaku, kepala tetap menghadap ke depan. Guru, asisten, atau teman akan sangat baik membantu memeriksa. Tulang belikat (shoulder blade – yang menonjol di punggung kanan dan kiri) harus selalu simetri, tulang ini jika lebih menghilang bisa terjadi karena lengan kanan terlalu ditarik ke depan, terlalu menonjol bisa terjadi karena terlalu ditarik ke belakang atau menekan bahu ke bawah. Tension semacam ini secara tidak sadar bisa terjadi karena kebiasaan berlatih menggunakan SR dan sudah dilakukan dalam waktu yang lama dan SR mendikte posisi bahu pemain.
  5. Nengkok ke kiri* sedikit dan atur posisi biola. Dagu pemain tidak perlu sampai menyentuh chinrest/biola. Pemain yang berpostur kecil dan menengah dan tidak berlengan panjang biasanya akan meletakkan biola sehingga posisi tailpiece tepat di bawah dagu. Ini memudahkan mencapai ujung bow dan memudahkan penjarian. Pemain bertubuh tinggi dan berlengan panjang biasanya akan meletakkan biola sehingga posisi dagu di kiri dari tailpiece biola. Ini memudahkan bowing sampai frog.
  6. Letakkan bow di senar A dan di tengah bow.
  7. Squaring-off: bentuk sudut 90 derajat di siku kanan, kemudian bentuk sudut 90 derajat juga antara tangan dan bow. Lihat sudut antara bow dan senar biola, kemudian ubah sudut biola sehingga bow pararel dengan bridge! Ingat yang diubah adalah sudut biola, jangan ubah sudut tangan kanan. Hasilnya ya begitu.
  8. Cobalah menggesek dengan bow penuh full bow. Pastikan bisa mencapai ujung bow dengan mudah dan tidak kesulitan mencapai pangkal bow (frog). Beberapa murid saya dengan mudah bisa menggesek pararel terhadap bridge setelah melalui prosedur ini dengan catatan perlu latihan untuk kontrol lebih baik dan untuk konsistensi. Ini terjadi karena posisi biola sudah cukup natural untuk pergerakan tangan kanan.
  9. Selalu cek postur badan agar selalui baik! Tidak boleh ada perubahan akibat ketegangan yang tidak perlu. Jangan pernah menyentuh badan belakang biola dengan bahu, kecuali postur badan secara naturan membuat bahu menyentuh badan biola.

*Menengok: ketika kepala menengok, tulang leher harus tetap lurus, tidak boleh miring. Gerakan sesedikit mungkin dan gunakan otot yang ada di puncak leher, itu perbatasan antara kepala dan leher. Kita bisa melatihnya dengan posisi berdiri baik seperti biasa, kemudian lirikan mata saja ke kiri baru diikuti gerakan menoleh ke kiri. Kemudian lirikan mata ke depan diikuti gerakan menoleh ke depan ke posisi semula. Latih juga untuk ke kanan.

Memposisikan leher selalu lurus secara natural dan kepala di ujung tulang belakang (on top of spine) adalah dasar dari keseimbangan manusia. Kalo posisi ini dilanggar, maka keseimbangan manusia akan terganggu. Ini menurut Alexander Technique ya. Eh iya ga ya? Ga yakin. Saya berharap ada guru Alexander Technique di Indonesia tercinta dan dengan senang hati saya akan mengambil kelas. Agar pernyataan ini lebih meyakinkan hehe.

B. Yaudah Terus Latihan Aja!

Setelah menemukan posisi yang natural untuk tubuh kita, ya lanjutkan saja latihan. Tentu saja ada hal-hal yang perlu diperhatikan:

  1. Tanpa shoulder rest!
  2. Waktu yang cukup, mungkin 2-4 pekan cukup, bisa ditambah kalau kurang.
  3. Dukungan pihak pihak terkait. Misalnya guru yang mendukung sehingga tidak menuntut target lain yang menyulitkan.
  4. Latih hal-hal dasar, merubah posisi biola akan mengubah teknik bermain, dan mungkin akan merubah hal hal dasar. Menggesek , penjarian terasa berbeda dan sebagainya. Latih gesek pararel, dan latihan dasar seperti tangga nada exercise semisal Schradieck awal. Latihan yang terlalu susah di fase awal akan mengganggu konsentasi yang pada akhirnya mengganggu konsentrasi untuk selalu merasakan apa yang terjadi di tubuh kita.
  5. Jangan coba coba mengangkat bahu sehingga nempel di badan biola! Ini sulit tapi sangat penting dan esensial.
  6. Sabar sabar sabar.
  7. Belilah jam dinding, jam bigben, timer atau penanda waktu yang lain. Atur waktu latihan sehingga selalu beristirahat selama 1 sampai 3 menit setelah latihan 10 menit. Untuk menjaga stamina dan konsentrasi sehingga body awareness tidak terganggu.
  8. Ketegangan fisik yang mungkin akan tegang dan perlu diperhatikan:
  • Gigi tidak menggigit, mungkin terjadi karena kebiasaan lama menekankan dagu ke chinrest secara berlebihan.
  • Dagu, Tahan biola dengan dagu hanya jika perlu! misal shifting dan vibrato.
  • Leher agar kepala menengok dengan baik dan tidak kaku, leher bisa sambil dibebaskan boleh nengok kanan kiri ketika main
  • Bahu kiri tidak diangkat, kanan juga
  • Lengan dan tangan mungkin akan tegang jadi cukup dirasakan
  • Punggung tidak kaku dan simetri dan tidak membungkuk atau lawannya membungkuk (apa namanya?)
  • Kaki kanan dan kiri, selalu berdiri dengan seimbang, berat tubuh ditopang dua kaki, bukan kanan aja atau kiri aja

C. Membuat Perubahan

Setelah melakukan latihan di atas, dan merasa akan mulai latihan dengan ‘normal’ lagi. Jadi ada yang harus dipikirkan dan dilakukan:

  1. Pakai SR atau tanpa SR. Keputusan Anda. Menurut saya menggunakan SR itu oke saja, asal harus dengan konsep yang benar seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. Setelah latihan tanpa SR, Anda akan bisa merasakan betapa rileksnya badan Anda, tidak perlu lagi menahan biola menyusahkan otot leher dan bahu. Tidak menggunakan SR itu alangkah cantiknya.
  2. Perubahan aksesori: chin rest. Ini penting, chin rest akan mengisi ruang antara biola dan dagu. Panjang leher dari tulang selangka sampai dagu harus setara dengan tebal instrumen ditambah tinggi chinrest dikurangi sedikit untuk memberi ruang gerak kepala. Ini membantu kita agar menjaga leher tetap lurus. Ingin chin rest di posisi tertentu, dengan tinggi tertentu, dll. tentu tidak ada solusi lain selain Anda beli sesuai keinginan. Atau pergi ke luthier favorit dan minta dibuatkan sesuai keinginan. Minta pengrajin untuk membuatkan bisa saja lebih murah dari membeli mengingat di Indonesia susah menemukan chinrest yang aneh aneh. Dan juga bisa lebih sesuai.

    Chin Rest

    Chin Rest yang saya pesan ke seorang luthier di Bandung

  3. Perubahan aksesori: shoulder rest. Kalau model tidak sesuai ya saya tidak tau solusinya, beli lagi deh. Atau Anda bisa membuat sendiri dari spons.
  4. Jika memutuskan bermain tanpa SR. Teknik bermain tanpa SR tentu berbeda dari teknik dengan SR. Terutama yang menjadi kesulitan adalah shifting. Video ini mungkin membantu. Juga bisa dilatih shifting dengan memainkan tangga nada dan arpegio di satu senar dengan satu jari dan dua jari. Lihat juga Six Violin Lessons oleh Yehudi Menuhin. Awareness pada jempol kiri akan menjadi baik. Jika menggunakan SR teknik tidak berubah dari sebelumnya. Ingat posisi SR yang baik dan tidak mengganggu kerja otot.
  5. SR untuk mengkompensasi jarak antara tulang selangka dan dagu: Ini mungkin menjadi solusi bagi beberapa orang. Tetap harus diingat konserp SR yang benar. Dan perlu diperhatikan pekerjaan tangan kanan akan berbeda dari latihan ketika tanpa SR karena posisi biola lebih tinggi jika jarak tulang selangka ke dagu dikompensasi SR. Latih lagi lengan kanan menggesek pararel. Ingat posisi SR yang baik dan tidak mengganggu kerja otot. Pastikan tidak kesulitan mencapai ujung dan pangkal bow.

Alhamdulillah Selesai Nulisnya (? – mungkin nanti perlu revisi)

Ada harapan dan keinginan yang saya harap dan inginkan:

  1. Semoga suatu saat bisa mengambil kelas Alexander Technique, ini akan bagus buat saya sendiri dan untuk bisa mengajar lebih baik.
  2. Saya berharap bisa bikin chinrest testing kit supaya bisa membantu untuk orang-orang membuat chinrest yang sesuai dengan kebutuhan.
  3. Semoga tulisan ini membantu teman-teman apalagi saya sendiri untuk bermain lebih baik!

Selamat berlatih, saya juga berlatih! 🙂

Python dan Teknologi Masa Depan

Seminggu yang lalu, setelah menonton teman yang sidang Tugas Akhir, ada adik kelas yang bilang, sekarang anak-anak lagi pada belajar Python. Gara-garanya kalau ga salah, mereka mainan Raspberry Pi.

Wah.

Padahal saya dulu belajar itu hampir 3 tahun yang lalu, menyadari waktu itu bahwasanya Python adalah salah satu bahasa pemrograman yang penting. Ya, meskipun sepertinya sekarang telah lupa, kebanyakan menggosok menggesek gigi biola.

Manusia-manusia yang belajar dan bekerja di bidang teknologi tentu saja sebaiknya selalu selangkah seratus langkah di depan. Beda dengan pemain biola, dia masih pakai buku pelajaran yang ditulis mungkin ratusan tahun yang lalu.

Apalagi kalau bisa memprediksi teknologi beberapa tahun ke depan, itu jiniyus! Mirip Steve Jobs.

Siapa yang belajar algoritma pakai Pascal?

Selamat belajar Python, pasti menyebalkan menyenangkan!