‘Tarik’, ‘Dorong’, dan ‘Figur 8’

Dalam Bahasa Inggris, menggesek dari pangkal ke ujung bow disebut down bow, sedang menggesek dari ujung ke pangkal disebut up bow. Sedangkan dalam Bahasa Perancis, digunakan tiré (tarik) untuk down bow dan poussé (dorong) untuk up bow.

Konsep tarik dan dorong ini menarik. Seperti menarik atau mendorong sebuah kotak di atas lantai. Bagian bawah kotak menimbulkan gaya gesek dengan lantai. Mirip seperti yang terjadi pada bowhair dan senar.

Ketika menggesek suatu senar, kita akan berusaha untuk tidak mengenai senar lain. Kurang lebih gambarnya kalau dilihat dari penampang senar yang dibelah (garis itu bowhair, lingkaran itu senar, maafkan ilustrasi yang begini ini):

Padahal untuk memproduksi suara yang lebih maksimal, diperlukan gaya gesek (friksi) yang lebih. Friksi ini dibentuk bukan dengan menambah tekanan pada bow. Tapi bisa dengan mengubah sudut menggesek. Misal pada senar D, down bow diatur supaya bowhair lebih dekat ke senar G. Sebaliknya, pada up bow lebih dekat ke senar A. Sehingga friksi nya akan lebih besar tanpa menambah pressure.
Tapi jika sudut ini diusahakan sesaat sebelum mengubah arah bow, perpindahan bow akan jadi tidak mulus. Supaya perpindahan bow tetap mulus, kita melakukan figur 8. Tangan kanan bergerak sepanjang jalur yang membentuk figur 8 imajiner.Untuk permulaan, cari dulu sudut yang tepat untuk tiap senar, sehingga friksi bertambah tapi tidak sampai kena senar di sebelahnya. Nanti akan terasa friksi nya hanya dengan mengubah sudut gesekan. Latih tarik dan dorong dengan sudut yang baru dicari ini untuk tiap senar. Setelah itu baru perlahan lakukan figur 8 dan praktekkan pada tangga nada.

Hmm, kenapa kalau nulis selalu kaku dan jelek ya. Biarin lah, selamat berlatih!

Menjadi Manusia

Dulu waktu saya sekolah, di pelajaran Biologi diajarkan bahwa manusia termasuk dalam Kingdom Animalia. Termasuk dalam genus Homo, genus Kera Besar, menyusui, dan bertulang belakang. (Nyontek-nyontek Wikipedia). Sebenernya bukan mau ngomongin Biologi sih. Tapi setuju aja, orang guru bilang gitu, lu bisa apa. Manusia emang seperti hewan. Sama seperti hewan dalam kebutuhan-kebutuhan biologis, cuman emang terlihat lebih beradab aja. Hewan yang berperadaban.

Hewan punya naluri bertahan hidup. Mereka selalu mencari sumber daya di muka bumi untuk bertahan hidup. Kalau ada makanan ya dimakan. Mungkin kalau di muka bumi cuma ada bison dan padang rumput, tidak ada mekanisme alam berupa rantai makanan: ada predator, ada yg dimangsa, dan penghasil makanan, niscaya rumput akan habis dimakan bison.

Jadi secara umum, hewan mempunyai perilaku menghabisi sumber daya. Kalau dibalik, perilaku menghabisi sumber daya, dalam bentuk apapun dengan cara apapun, adalah hewani.

Homo sapiens ternyata juga punya perilaku yang sama ya, menghabisi sumber daya. Malahan bisa lebih parah. Karena menghabisi sumber daya lebih variatif, masif, dengan teknologi yang kreatif dan inovatif. Jadi Homo sapiens memang benar-benar hewani. Mungkin karena mereka bangga termasuk dalam anggota kerajaan hewan, Kingdom Animalia.

Perilaku konsumtif Homo sapiens dari yang paling norak sampai yang paling keren, paling udik sampe paling canggih, ngopi pinggir jalan sampai nongkrong di tempat hitz, ngabisin beras sampe ngabisin isi perut bumi, ya itu hewani. Apalagi kalau ganggu tetangga dan kucingnya.

Manusia sejatinya ada di muka planet unicron eh bumi ini untuk memakmurkannya (khalifah/caliph). Makmur itu ya membuat planet ini jadi tempat yang lebih baik untuk ditinggali makhluk hidup dan transformers. Eh engga, biarin transformers di planetnya sendiri. Lagian telat banget sih baru bahas transformer.

Membikin bumi jadi tempat lebih baik kan beda sama menghabiskan sumber daya. Emang sih untuk tujuan itu butuh sumber daya. Tapi kan seperlunya aja. Petani makan nasi sepiring biar kuat panen beras buat sekampung. 

Jadi perilaku untuk membuat bumi jadi lebih baik: menanam untuk makanan banyak orang, mengajar, membangun jalan, membuat kereta, mengepel teras bandara, masak yang uenak, membuat karya seni, membantu yang lemah, apapun adalah perilaku-perilaku manusiawi. Ini yang membuat Homo sapiens menjadi manusia, jika mereka berperilaku manusiawi. Mengangkat derajat Homo sapiens menjadi berbeda dengan anggota kerajaan hewan yang lain.

Sebagai Homo sapiens sebaiknya tidak sesumbar dan merasa manusia mulia. Karena bisa aja kita tidak ada di muka bumi sebagai manusia, kalau yang dilakukan masih bersifat hewani. Meskipun kerjaan ngetop (emang kerjaan ngetop itu apaan?), duit banyak, tapi trus duitnya dipakai macam-macam untuk menghabisi sumber daya. Kan kalau duit banyak, jadi punya privilege lebih buat menghabisi sumber daya. Menghabisi sumber daya kan mirip sama bison.

Nanti aja kalau udah merasa semua perilaku hidup adalah perilaku manusiawi, baru ngaku manusia. Jadi punya kerjaan ngetop bukan cuma biar banyak duit dan ngabisin beras. Gitu aja koq repot!

Kesederhanaan adalah dasar utama dari segala moral dan kebajikan utama manusia. Tanpa kesederhanaan, manusia tidak ada bedanya dengan binatang – Napoleon Bonaparte

Tanpa rasa menghormati, apa bedanya manusia dengan binatang? – Konfusius

Ditulis oleh Homo sapiens ngantuk abad 21 yang belajar manusiawi.

Write Practice Journal to Practice Healthier

Violinist may experiences pain in neck, arm, or back because of long period of practicing. Especially when practicing by ourself, the long and restless practice happens when there is no practice plans. This is why writing practice journal is essential for healthy and efficient practice.

For me, the key of healthy and efficient practice is making targets smaller and detail. With this is mind, we will practice in less time because of smaller targets but more efficient because we practice in more detail. But of course, we will need more practice sessions. I once talk with American violist, Michael Hall. He suggested to make a session of practice consists of only three goals, with each goal is a specific thing and not too difficult to achieve. 

For example if we’re practicing orchestral excepts, goals for a sessions would be:

  1. Make staccato short in bar 24-28
  2. Phrasing in bar 80-88
  3. Practice the difficult passage from bar 127 with M. M. = 68

By writing them in our journal, we make ourself to focus on goals and it means practicing in less time. By making each goal detail, we raise awareness in both technical and musical aspects. And by making each goal not too difficult means less frustration.

If there are many things to practice it’s always better to make each practice session short but greater number of sessions. It helps me to be more focus on goals, more details in both technique and music, less frustrating while it also allows me to take more break.

Break between sessions is an ‘active’ break. It should be spent for writing review of the last session then writing goals for the next session. Also to avoid stiffness and injury, doing a short stretching will be helpful. So the break is essential in planning the practice and allows our body to be more relax and ready doing next session of practice. Don’t forget to take longer break after few sessions.

So, keep a journal is important not only to achieve better and faster result, but also keep our body in good condition. Happy journaling!

Kebutuhan, Liability, dan Aset

Pernah menonton video ini dan sedikit banyak setuju dengan isinya. Atau bahkan bisa dibilang baru lebih sadar dengan barang-barang yang saya beli setelah nonton video ini.

Inti dari video adalah bahwa apapun yang kita beli bisa dikategorikan menjadi:

Liability (saya ga nemu terjemahan yang pas buat kata ini), benda yang kita beli kemudian benda ini tidak memberikan keuntungan, bahkan sebaliknya, benda ini akan memakan uang kita. 

Aset, benda yang kita beli kemudian benda ini bisa menghasipkan keuntungan. 

Jadi mobil, ponsel, rumah, dan baju adalah contoh-contoh liability. Benda-benda ini membutuhkan uang, misal mobil butuh bahan bakar, ponsel, butuh pulsa, rumah butuh maintenance, baju perlu dicuci dan dirawat.

Sedang aset bisa berupa apartemen yang dikontrakkan, peternakan, sawah yang dikelola dan produktif, kendaraan yang disewakan, dsb. Benda-benda ini dimiliki dan membawa keuntungan pada pemiliknya.

Jadi sebaiknya berhentilah mengira punya aset yang melimpah kalau sudah punya gadget-gadget terbaru, mobil banyak, rumah di mana-mana. Itu semua liability. Emang benar benda-benda itu bernilai dan bisa dijual kalau lagi butuh uang. Tapi beberapa benda itu nilainya akan semakin berkurang, selain itu juga memerlukan uang untuk bisa berfungsi dan perawatan. Jadi kalau menjual sesuatu menurut saya hitungan keuntungan bukanlah harga jual dikurangi harga beli, tapi harga jual dikurangi harga beli masih dikurangi biaya perawatan.

Yang dibahas di video tadi menekankan pada penyebab makin kayanya orang karena mereka membeli banyak aset, dan yang belum kaya jadi lama ga kaya-kaya karena suka membeli liability. Jadi ternyata orang-orang kaya itu memang secara sadar membeli aset-aset. Mereka membeli dengan sadar. Sedang yang belum kaya banyak yang hobi membeli liability, mungkin karena mereka membeli dengan kurang sadar.

Eh iya, jangan lupa juga kalau benda yang kita beli ada juga yang kebutuhan. Benda yang kalo kita ga punya bisa mengancam kelangsungan hidup. Misal makanan, baju, tempat tinggal, odol, sabun, dan shampo.

Karena saya orang biasa saja, jadi saya ga akan berbicara tentang bisnis seperti yang ditekankan di video tsb. Tapi ingin mengambil sebuah nilai, juga untuk mengingatkan diri sendiri, bahwa kita sebaiknya benar-benar sadar dengan apa yang kita beli.

Tentu saja kebutuhan adalah hal yang pertama kali harus dipenuhi. Tapi kebutuhan ini kalau berlebihan nanti akan bergeser derajatnya menjadi liability. Makanya harus sadar membeli sesuatu utk memenuhi kebutuhan kita itu cukup, atau kurang, atau berlebihan. Habis itu kalau ada uang sisa, dibelikan aset untuk nambah pemasukan.

Menurut pengamatan pribadi saya, sadar atau tidak, banyak orang yang suka membeli liability. Saya ga ngomongin bisnis, jadi saya ambil contoh yang ada di sehari-hari, dan terutama benda-benda ‘kecil’. 

Sadar atau tidak kita selama hidup suka sekali membeli baju, tapi ternyata ga sering dipake. Numpuk atau cuman digantung aja di lemari. Coba perhatiin lagi berapa banyak pakaian di dalam lemari yg jarang dipakai. Ini berlaku juga utk yg sejenisnya seperti sepatu, jam tangan, dan hal hal lain yg dikenakan di badan. Menurut saya ini kan ga efisien, masa beli sesuatu tapi manfaat yg diambil ga banyak. Ga worth. Begitu juga dgn gadget-gadget masakini yg mahal-mahal, speknya tinggi tapi cuman dipakai selfie. Menurut saya ini juga ga worth. Apalagi mengingat sebenernya gadget adalah benda yg masa hidupnya ga bisa lama. Perabot rumah juga begitu, di dalem rumah mungkin banyak sekali benda yg sebenernya jarang digunakan, yg sebenernya kalau ga punya juga gapapa.

Saya juga pernah ditanya pingin beli mobil apa engga, saya jawab engga. Saya bilang kalau harga mobil itu 80 juta berarti harga biola yang saya pakai harus 160 juta. Karena mobil itu liability, sedangkan bagi pemain biola, instrumen itu bisa dibilang aset, karena mempengaruhi performansi pekerjaan, dari instrumen itu didapat penghasilan.

Rasanya kalau kita membeli liability secukupnya, manfaatnya cukup banyak:

  • Hemat, uang keluar secukupnya, biaya utk perawatan liability juga lebih rendah
  • Terlatih untuk bekerja efisien, memanfaatkan semaksimal mungkin apa yang dipunya
  • Mengurangi stres. Liability bisa jadi penambah faktor stres. Makin banyak liability makin banyak perawatan, makin banyak waktu tersita. Belum lagi kalau benda-benda ini bermasalah atau jadi susah mencari sesuatu karena kebanyakan barang
  • Rumah lebih tertata dan rapi, ga kebanyakan barang
  • Di rumah jadi lebih banyak ruang karena ga dipake untuk menyimpan barang-barang yang jarang dipakai
  • Ada yang mau nambahi? Mungkin juga bisa dilihat mengapa orang Jepang minimalis.

Alasan-alasan yang saya bicarakan mungkin memang tidak akan berlaku untuk semua orang. Mengingat tiap orang kebutuhannya berbeda. Tapi cuman ingin mengingatkan ke diri sendiri untuk benar-benar sadar dengan benda-benda yang dibeli.

Violinist’s Concert Outfit

Playing in a symphony orchestra is an energy consuming work. A concert program of an overture piece, a concerto, an orchestra piece, and a symphony takes two hours long. It requires all players to have good endurance and concentration. 

Although it’s true that playing violin is also a matter of endurance, but for me, violinist’s concert outfit is something need to take care of. Female orchestra member are usually free to choose their own black dress. They can choose any type to suit their need, at least for both comfortability and stylistics. But male players usually can wear only white shirt and suit. When it comes to endurance, suit which is not comfortable will unnecessarily consume more energy.

After experiencing such thing, I thought about a suit and shirt design that allow violinist and violist to move more freely.

Actually there are people who already started to make special suit and tux for musician. For example flextux. And coregami, a very hi-tech shirt and tux.

Of course those are very good but for me they aren’t affordable and difficult to buy from Indonesia (not so many people here in my town have credit cards or any other online payment things).

The Suit

Cloth fold: playing violin require you to move your arm and raise elbow a lot. It will pull the cloth from your back. To solve this, after a discussion with a local tailor who tailored my suit, we decide to make a cloth fold in the center of the back. So arms can move more freely without restriction from the suit. It’s similar with what flextux guy did, but different design. My tailor said he ever made such fold back in 1980s.

 

Collar: space between collars must be wide enough so they aren’t climbing your neck. This way we can place violin as close as possible to the neck. For me place the violin as close as possible to the neck is important. 

Sleeve: although a suit is slimfit, the sleeves should not be too tight. They must let the arm to move freely.

Shoulder pad: it’s better to use thinner shoulder pad. 

Fabric: my tailor use a fabric which is able to stretch. Also make sure the fabric is not heavy.

The Shirt 

Collar: wings collar works better. The spread collar will make the collar thicker so it will add more space between neck and violin.

Cloth fold on the back: It’s important for arm movement. I asked my tailor to make this fold bigger than usual shirt.

Cuff: it doesn’t matter french or other styles. Make sure they’re wide enough so they don’t restrict arm movement. Also sleeves must be long enough. Too short sleeve will bother arm movement.

Fabric: I used common fabric for shirt. Use anything as long as it’s comfortable.

I wore this set of outfit for Bandung Philharmonic concert on April and recital on May and felt happy that it worked fine.

Photo by Lucky S. Putra

If you’re experiencing similar problem, hope this article helpful. Or even if you have any other ideas, please let me know!

Simple Shift Exercises

I was a lazy person, a lazy violin student. I still am. When I had to practice shifting using books, any book, my laziness said, “don’t do that.” I was so lazy to read and Schradieck or any other books available at that time. (This laziness to read may be one of the causes of my bad sight read *cry in G minor Adagio). So I decided to just read more about shifting and find out important points about it.

Simon Fischer explained in various accounts that there are two common mistakes in shifting: the arm move in an incorrect distance and the finger misplaced. Other things come to my mind: we seldom play only a single note after shifting to new position which means our left hand must be ready to play in the new position and shifting must be secure using any finger.

With these in mind, I started to play my own shifting exercise. A very simple exercise. Here is an example of the exercise for first and third position:

shift_exercise

With this exercise we practice all important things explained before:

  1. To ‘measure’ correct distance using left arm movement, and also place finger correctly
  2. To securely shift with any finger. All fingers are trained to be ‘destination’ of shifting, whether to third and first position
  3. To be ready to play other notes in tune in the new position.

The exercise is not limited. You can make so many variations and improvisations, based on your own need. You can play A1(first measure of A) then B2(second measure of B) or C1 then A2, A1 then B2 to A1 to C2 to A1 to D2, any combination you like. You can also use it for many other positions, first to third, first to third to fifth to seven, or the even positions first to second, to fourth. You can also jump to ‘not systematics position’ like from first to fifth than to sixth to fourth, etc. I used to play all positions up to seventh. You can also change the key, probably match the with the key you’re currently studying.

Additional tips:

  1. Practice slowly!
  2. Finger placement must be very consistent. See a demonstration by Prof. William Fitzpatrick
  3. Sing the notes you want to play to help the intonation

This blog post is of course my own experience in studying violin. May works for you, may not. You probably have better exercises than mine! As an musical instrument student we have to experiment many things, but only pick one or few things that work for us. And more importantly, have a better understanding of problem we face. Happy practicing!