Bach – Prelude dari Solo Partita no. 3, BWV 1006

Tulisan tangan Bach, ada di IMSLP.

Partita 3 ini terdengar paling ceria dari keseluruhan 6 Sonata dan Partita untuk Biola Solo karya Bach. Pertama karena kuncinya mayor (E mayor), beda sama 2 Partita lain, Partita no. 1 di B minor dan Partita no. 2 di D minor. Kedua karena Bach sepertinya sengaja milih kunci E biar bisa memakai fitur biola yang punya senar E, senar yang bunyinya paling terang dan brilian. Dan emang di Prelude dari Partita no. 3 ini senar kosong E sering dibunyikan.

Rasanya ini karya yang cerdas, karena Bach emang jenius. Meskipun bukan pemain biola pro di masanya, Bach dengan cerdas memahami cara kerja biola secara teknis dipadu dengan kejeniusannya di bidang harmoni.

Prelude ini sepertinya cukup populer bahkan di kalangan pendengar yang ga banyak denger klasikan. Mungkin karena banyak di-quote di tempat-tempat lain macem iklan atau film, kaya film August Rush.

Meskipun paling terdengar menyenangkan, buat pemain Prelude ini menyusahkan hahaha. Banyak sekali bagian tricky di penjarian, bowing, & string crossing. Tapi tetep kok, mainnya menyenangkan, kalau bisa jadi sih hehehe.

Mulai belajar Prelude ini tahun 2015, kira-kira pertengahan tahun, mungkin bulan April atau udah Mei. Bulan Agustus 2015 spesialis barok Rafael Nunez Velasquez dateng ke Bandung buat ngasih masterclass. Dan masterclass ini ditutup dengan konser pesertanya, jadi waktu itu adalah pertama kali main Prelude ini di depan khalayak heuheu.

Meskipun bukan karya Bach solo yang pertama kali saya pelajari, tapi rasanya Prelude ini jadi salah satu karya yang penting buat hidup saya (lebay). Dulu pertama belajar Bach solo itu Giga dari Partita 2, dan setelah itu ngerasa mungkin emang saya bisa related dengan karya Bach solo. Balik ke Prelude, rasanya karya ini yang memicu saya latihan lebih banyak dan lebih cerdas akibat waktu itu aslinya level main saya yang jauh dari cukup buat main Prelude ini. Kayanya emang nekat, tapi mungkin belajar ya harus ada unsur nekatnya. Eh sekarang pun masih berasa susah sih main ini.

Sepertinya salah satu akibat dari latihan Prelude ini adalah cidera yang kerasa (mungkin cidera ini juga ‘tumpukan’ dari banyak latihan dan beberapa hal lain) di punggung atas dan bahu. Ini yang mengantar saya kepada kecurigaan bahwa cara main saya salah. Kemudian melakukan banyak pencarian yang berujung pada perubahan cukup signifikan di cara main saya, yang saya tulis juga di ‘Berlatih Tanpa Shoulder Rest’.

Setelah pindah dari Bandung ke kampung halaman tahun 2016, tentu saja harus memulai karir di tempat baru ini. Dan saya mau mulai dengan resital. Resital aslinya saya rencanakan awal 2017 tapi karena satu dan lain hal jadi mundur sampai bulan Mei. Prelude ini juga punya peran karena saya milih karya ini untuk resital. Ngikutin mind map yang dibuat Prof. Simon Fischer, bahwa sebagai murid biola kita harus belajar Major Concerto, Sonata, Unaccompanied Bach, dan Pieces.

Karena pernah main Prelude ini 2 tahun sebelumnya, jadi dengan yakin (akhirnya tetep kesusahan sih haha) menjadikannya sebagai ukuran buat milih repertoar yang lain. Menurut Prof. Kurt Sassmannshaus, Prelude ini beliau masukkan di Level 6, bisa dilihat di violinmasterclass.com, jadi repertoar lain yang saya pilih: Mozart – Concerto no. 3, Beethoven – Spring Sonata, dan Sarasate – Caprice Basque saya pilih dari list yang juga masuk di Level 6. Di resital Mei 2017 lalu saya main Prelude ini sama 2 gerakan setelahnya, Lourre dan Gavotte en Rondeau.

So sad video resital pun ketlesut dan belum diketemukan.

Jadi rasanya Prelude ini ngaruh ke saya di beberapa hal penting. Dan sepertinya juga ada hal-hal yang personal dan gabisa diceritakan.

Karena Prelude ini saya jadi berani resital, trus resital ini jadi cikal bakal Klasikan AE, Klasikan AE bisa ngadain resital selanjutnya: Rewind, Scherzo Trio, dan Orkes Gesek AE. Jadi semua berawal dari Prelude, karena emang Prelude adalah awalan. Ga tau lagi nanti Prelude akan membawa ke rantai takdir yang mana. Hahahaha cocok-logi!

Advertisements

Upgrade Komponen Sepeda

Sepeda balap dengan brifter & rangka aluminium alloy yang sepertinya termurah di pasaran Indonesia.

Sejauh ngobrolin sepeda sama orang-orang, ga lepas dari ngobrolin upgrade komponen sepeda. Tujuannya ga lain biar nambah kecepatan. Ganti groupset-lah, fork-lah, wheelset-lah, handle bar-lah, clipless pedal-lah, apalah. Ya not necessarily wrong tentu saja, eh ya bener juga kalau upgrade benda-benda itu tentu saja bisa nambah cepet. Tapi buat saya aslinya hal-hal begitu harus dibalikin lagi, sepedaan mau apa?

Jangan-jangan kita ga sadar betul, sudah sejauh mana suffering sepedaan. Jangan-jangan cuma terlalu impulsif karena diracuni orang-orang yang ‘berpengalaman’. Padahal sepedaan cuma kota-kota 20kph aja heheu.

Setau saya, dalam banyak hal pun, emang bener kalau alat selalu punya batas dan membatasi performa. Tapi ketika performa ga maksimal itu karena orang di belakang alat itu, jadi yang perlu di-upgrade pertama kali tentu saja orangnya!

Kaya main biola, bener kok biola lebih mahal itu biasanya lebih bagus. Suaranya lebih merdu, lebih projected, lebih colorful, lebih responsif, dll. Tapi kalau masalahnya masih hal basic macem intonasi yang ngaco, masa iya pas pake biola bagus tiba-tiba bisa ga fales?

Masa iya, sepeda saya yang cuma pake grupset paling jelata Tourney, trus biasa saya pake sepedaan dengan effort sangat biasa kaya 20kph kalau diganti Ultegra langsung bisa 30kph? Ya ndak to. Kalau effort gitu-gitu aja mau Tourney apa Ultegra ga ada bedanya. Dari sini saya pahami yang perlu di-upgrade tentu saja orangnya (dan otaknya heheheu).

Dengan keterbatasan alat yang sedemikian rupa, saya nyoba dulu nge-push, sejauh mana kemampuan alat ini, dan tentu saja kemampuan diri saya sendiri. Nyatanya sampai saat ini saya masih ngerasa bisa lebih baik dengan sepeda jelata ini. Misal bisa dilihat dari data segmen di Strava. Meskipun boleh diakui, mungkin dengan alat yg lebih canggih akan jauh lebih mudah nambah kecepatan.

Tapi dari sini bisa disadari, kalau sebenernya dengan alat yang sama, masih banyak sekali hal yang selalu bisa di-refining. Apalagi kalau terbentur budget hahahaha! Berikut sedikit contoh dari pengalaman pribadi.

Teknik Pedal & Rasio Gigi

Ndak ngerti saya sejauh mana Anda sebagai pesepeda amatir yang ga pake clipless pedal merhatiin hal ini. Kalau saya, justru karena cuma pakai pedal flat, saya perhatiin betul di mana saya naruh telapak kaki di pedal, saya cari yang berasa paling efisien. Di samping itu, saya juga nyari gerakan mancal yang paling efisien, yang buat saya (rasanya ini cukup personal) mancal itu rasanya lebih ke spinning legs, daripada pushing pedals. Jadi saya nyari biar pedal tetep muter dengan energi seminimal mungkin. Nanti hubungannya dengan cadence saya yang cenderung tinggi, dan lagi-lagi cadence adalah hal personal. Saya milih rasio gigi jadi yang menurut saya ga berat, tapi cadence bisa selalu stabil. Rasanya kalau udah pakai clipless pedal ga akan mau pusing mikir ini.

Strategi

Sebagai seorang Strava hunter, saya hampir selalu ingin lebih cepet dari sebelumnya terutama pas ngelewati trek tertentu atau segmen Strava. Nyatanya biar lebih cepet ga selalu bisa dengan nge-push tenaga lebih. Tapi bisa juga dengan strategi yang lebih bagus. Kaya mempelajari jalannya, gradiennya, tikungan, sampe tingkat kekasaran aspalnya. Dari situ saya nyusun strategi di mana saya bisa nambah pace, di mana harus sabar, di mana ngambil momentum, di mana harus out of sadel, di mana harus ngebut sengebut-ngebutnya. Dan bagi saya mikir strategi ini sangat menyenangkan.

Fitting

Mungkin karena amatir dan ga punya coach jadi ga merhatiin ini. Coba deh ubah-ubah posisi sadel, maju/mundur, tinggi/rendah, bahkan sudut kemiringan. Ini ngaruh banget ke teknik pedal dan sensasi mengeluarkan power ke pedal, juga kenyamanan. Ngaruh juga ke posisi badan dan distribusi berat badan di sepeda. Bisa aja karena setting sadel ga bagus berat badan terlalu banyak di belakang akibatnya mancal rasanya berat. Posisi aero juga ngaruh tentu saja.

Fitness Level

Tentu saja! Makin kuat orangnya akan makin cepat sepedaannya. Seinget saya, kata GCN, latihanlah dengan memacu diri, sampai rata-rata kerja jantung itu 70-80% dari kapasitasnya, maka Anda akan jadi kuat seiring dengan berjalannya waktu. Dan lebih penting lagi insya Allah jantung sehat, badan sehat, dan berat bada turun (mungkin ini penting banget buat sebagian orang). Kalau belum mau suffer, mau ganti sepeda jadi Specialized Venge Sagan Edition juga percuma.

Intinya jangan lupa kalau sepedaan buat amatir seperti saya tujuannya adalah menjadi sehat dan commute bukan ikut balapan di Tour de France. Sejauh tujuan tercapai, ngapain upgrade? Dan lagi meng-upgrade diri biar lebih pintar dan kuat kepuasannya memang subtil tapi berkesinambungan, dan ini penting. Mungkin kalau upgrade komponen akan tiba-tiba merasa hal yang berbeda sehingga kepuasannya akan berasa impulsif dan biasanya cukup fana. *heheheu ngomong opo*

Tentu saja kalau mau upgrade itu bukan salah. Saya juga mau upgrade karena ada komponen berteknologi tua yang performanya kurang baik seperti square taper crank di sepeda saya. Tapi pastikan memang itu akan berguna dan ga mubazir. Be smart buyer!

Bab Sholat: III. Bawa-bawa Masalah Hidup

Namanya manusia pasti punya masalah hidup karena emang dia hidup. Kalau ga punya masalah ya berarti udah mati heheu.

Masalahnya kalau pas sholat katanya kita kudu konsen, fokus. Padahal namanya masalah selalu ada di pikiran. Mana bisa fokus? Jadilah kita manusia yang menganggap bahwa sholat khusyu adalah kemustahilan.

Otak manusia kayanya emang selalu gitu, inget masalah. Apalagi kalau memori itu didapat dari sesuatu yang emosional, ingatannya akan lebih kuat lagi.

Tapi konsen dalam sholat buat saya bukan konsen yang sama kaya lagi serius ngerjain sesuatu yang perlu konsentrasi. Bukan seperti orang menjahit biar jahitannya ga salah pola. Bukan konsentrasi yang berarti melupakan segala-galanya hanya untuk fokus mengerjakan satu hal. Bukan melupakan segalanya untuk fokus biar bacaan sholat bener semua.

Kalau konsen yang cuman buat fokus bacaan itu terlalu teknis. Padahal selalu ada hal lain selain teknis. Hal non teknis yang penting itu adalah perasaan menghadap Allah, perasaan menyerahkan segalanya pada Allah, merasa lagi ngomong sama Allah, curhat sejadi-jadinya sama Allah. Pendeknya, ihsan.

Lagi sholat, inget masalah, inget juga buat nyerahin masalah itu ke Allah. Inget buat minta solusi ke Allah. Inget kalau manusia ga akan kuat ngadepin masalah kalau ga ditolongin sama Allah.

Kalau sekedar bacaan bagus, ya bisa aja bacaan bagus tapi kalau ga ihsan ya jadinya baca aja tapi ndak paham kalau bacaan itu ya kita lagi ngomong ke Allah. Muji Allah, berharap, berdoa, minta ampun, minta petunjuk, takut, cinta, dll. Perasaan yang kompleks, seperti juga masalah manusia yang bisa jadi kompleks. Kalau sekedar bacaan dan gerakan bener ya aslinya karena udah puluhan tahun sholat sambil ngantuk aja bisa tetep bener bacaan dan gerakannya.

Nyatanya emang kalau lagi bermasalah, kita disuruhnya sabar sama sholat kan? Nyatanya sholat juga banyak macemnya yang dari judulnya aja emang buat nyari solusi masalah manusia. Lagi bingung pingin sesuatu ada sholat hajat, lagi bingung nentuin pilihan ada istikhoroh, bingung rejeki ada sholat dhuha, dsb.

Jadi buat saya kepikiran masalah hidup pas sholat ya ga masalah. Yang penting bagaimana perasaan kita, harus mau nyerahin masalah itu ke Allah dan nganggep Allah yang bisa nolong. Sederhana, tapi juga ga gampang.

Insecure Sama Finansial

Gegara ngaku-ngaku ngejar passion jadi ya begini 😬 . Sejujurnya emang saya iri sama teman-teman yang bekerja di perusahaan tertentu. Apalagi yang s udah jadi pegawai tetap. Hidupnya ‘terjamin’. Sedang orang macem saya yang harus mulai usaha sendiri dari bawah, nyari murid, ngajar kesana-kemari terus merasa insecure dengan penghasilan. Meskipun sekarang ikut juga di sebuah tempat les sih. Tentu saja insecure-nya karena ga stabil, ga sestabil teman-teman PNS, pegawai BUMN, anak perusahaan, atau korporat apapun. Kalau murid keluar-masuk ya pemasukan naik-turun.

Aslinya dulu ga lama setelah lulus kuliah dapet beberapa tawaran kerja yang kata yang nawarin sesuai sama skill saya. Bukan musik maksudnya, tapi yang sesuai ijazah. Tapi saya tolak, sok-sokan bat malah nyari kerjaan yang ga aman.

Tapi setelah dijalani dan dipikir-pikir lagi. Justru sepertinya emang saya perlu perasaan insecure ini. Perasaan yang nampak negatif ini aslinya buat saya malah mendorong ke hal positif. Dunia ini emang penuh paradoks.

Coba kalau ga ngerasa insecure mungkin saya udah males-malesan latihan. Ngapain susah-susah ngejaga kualitas main kalau kontrak di orkes pasti diperpanjang terus? Nyatanya cara kerjanya ga gitu. Main nyabun akan ketahuan, dan kontrak akan diputus.

Sama halnya dengan ngajar. Ga bisa ngasal, saya yakin eventually murid akan tau mana guru ngasal dan yang ilmunya bener. Dan murid juga akan berhenti les kalau merasa ga ada progres padahal mereka udah usaha latihan. Ini bisa aja karena guru ga becus problem solving buat muridnya. Guru ga banyak nyari-nyari referensi.

Mau ga mau insecure ini jadi salah satu faktor yang nge-push saya jadi manusia yang lebih berkualitas.

Dan yang penting juga insecure ini yang mengikis sombong yang ada dalam diri. Gimana bisa sombong lha wong takut musim depan ga dapet job lagi? Gimana bisa sombong kalau bulan depan ga tau duit cukup buat bayar kos dan makan apa engga? Jadi biar jadi manusia yang inget terus ke Yang Maha Sombong dan Maha Ngatur Rejeki. Hidup bergantung pada Alloh, bukan pada korporat manapun.

Mungkin manusia lemah iman kaya saya emang ga akan kuat kalau kerja di korporat. Gaji tetap, jaminan keselamatan dan kesehatan, tunjangan anak istri (emang punya?), dll kayanya banyak aspek hidup yang udah di’jamin’ sama korporat. Jadi takutnya saya lupa bahwa yang sebener-benernya menjamin hidup bukan korporat.

Tentu saja kerja di perusahaan itu not necessarily bad. Malah bagus, bahkan pastinya banyak yang kerjaannya membawa lebih banyak manfaat daripada yang saya kerjain. Ada yang bikin kereta, mobil, bangun jalan, dll. Tapi sebenernya se-secure apapun pekerjaan aslinya bisa jadi ga secure juga. Nothing too big to fall. Pabrik segede Nokia akhirnya kolaps padahal Steve Balmer ngakunya Nokia ga melakukan kesalahan apapun. Manusia ga bisa nerawang masa depan.

Semoga kita selalu jadi manusia yang bersyukur.

Ngitung-ngitung Sepedaan

Biasanya saya ga masang cyclo-computer di sepeda kalau hanya untuk commute dari kosan ke tempat ngajar (tempat ngajar itu ga cuman satu tempat). Tapi kali ini pingin tau berapa jauh saya commute. Saya pasang cyclo-computer dari Kamis 7/6 s.d. Senin 11/6. Selama 5 hari ini ternyata saya bersepeda sejauh 157km.

Jarak ini aslinya sih ga cuman commute sih, karena termasuk workout 30 km hari Kamis 7/6. Jarak commute-nya ya kira-kira sisanya. 157-30 km = 127 km. Ini juga aslinya termasuk commute jarak mayan jauh Madiun – Magetan pp hari Minggu dan Senin yang totalnya 52-an km. Tapi ya yang jauh ini commute, saya lagi pingin ngitung jarak commute.

Pingin ngitung kasar aja, kalau dibandingin dengan naik motor bapak saya yang Jupiter tua (2008 kalau ga 2009) itu berapa duit yang diirit. Sejauh ingetan saya, selama masih bolak-balik Magetan – Madiun tiap hari, beli BBM itu 2 hari sekali, atau bisa dibilang 1,5 hari sekali, hari ini beli, dipakai pp plus dipakai sekali pergi, pulangnya harus beli. Kira-kira jarak 1xpp + sekali pergi = 80km. Itu duit 15 s.d. 20 ribu. Terdengar boros ya, mungkin emang karena motor tua. Jadi biaya per km = 17 ribu (anggep aja ambil tengahnya) / 80 km = Rp 212,5 / km. Yaa hitungan kasar ya.

Selama 5 hari ini karena saya commute 127 km pakai sepeda, berarti saya berhemat 212,5 * 127 = Rp 26.987,5 anggep aja Rp 27k. Ternyata dikit ya hahaha.

Ini makin dikit lagi ngelihat waktu yang dipakai buat commute. Buat mencapai 157 km ini, saya ada di atas sepeda selama hampir 8,5 jam.

Makin terlihat sedikit lagi karena kalau pulang ke Magetan terus tentu saja makan selalu dimasakin ibu, kalau ngekos kan beli hahaha. Belum lagi buat bayar kosan dan sabun karena jadi harus sering mandi.

Tapi dulu kalau ga salah akhir 2017 akibat motoran terus Magetan – Madiun saya divonis dokter punya gejala bronkitis. Ga lama kemudian saya ngekos dan berhenti motoran dan sepedaan (mostly) ke mana pun saya harus menuju. Sekaligus jadi lebih sering sepedaan dengan tujuan emang olahraga. Alhamdulillah batuk berbulan-bulan itu sembuh.

Selain itu sekarang berat badan turun banget, belasan kg, mungkin mendekati 20kg karena dulu sempet kira-kira 84kg, Januari 2018 jadi 72kg. Sekarang kelihatannya lebih kurus lagi. Belum pernah nimbang badan lagi sih sejak Januari (lama banget). Sebenernya ga gitu mikirin berat badan ini sih, cuman ya kerasa lebih sehat. Ga batuk dan ga ngorok pas tidur. Dan sejauh ini sepertinya daya tahan tubuh jadi membaik.

Sebenernya mikir juga kalau dibilang lebih sehat ga tau juga ya, karena tetep aja terpapar polusi di jalanan. Untungnya jalanan Madiun ga kaya Jakarta sih. Tapi tiap kali orang bilang, “Sepedaan terus sehat dong” saya amini saja.

Tapi yang lebih penting lagi sih, rasanya sepedaan juga berkontribusi buat indeks kebahagiaan diri sendiri. Tidur jadi lebih lelap meskipun ga selalu. Kalau lagi anxious dibawa sepedaan aja sampai capek. In short, ini salah satu fasilitas pelepas stress buat saya.

Nothing compares to the simple pleasure of riding a bike

John F. Kennedy

Mengkritisi (Pelaku) Agama

Lagi ngetren sekarang akun-akun sosmed yang isinya ngomongin agama. Mungkin aslinya udah lama ya, sejak temen-temen seumuran main Twitter tahun 2010an. Sekarang kayanya makin banyak sejalan sama makin ramenya sosmed dan orang-orang memulai kampanye mereka sesuai bidang masing-masing di sosmed.

Yang jadi soal biasanya karena ngetren jadi ada orang yang percaya dan ngikutin gitu aja. Kaya ada yang ngepos di instagram tentang kalau sholat harus ngerapetin shof sampai nempelin kaki dan bahu. Postingannya cuma satu hadis aja dan ga banyak penjelasan. Kemudian orang-orang langsung percaya begitu saja karena hadisnya sahih.

Kalau cuma hal kecil begini kayanya gapapa sih. Tapi yang jadi soal adalah kalau kita ga pernah sama sekali berusaha mengkritisi apa yang diterima. Karena udah berbau agama, ada dalilnya yaudah sami’na wa atho’na aja, ikutin aja apa kata akun sosmed itu.

Padahal meskipun itu bernuansa agama, belum tentu postingan itu valid kebenarannya, atau mungkin bisa jadi yang diinginkan agama bukan seperti itu. Aslinya yang kita lihat lewat akun sosmed itu bukan agama itu sendiri, tapi (yang dipraktekkan) pelaku agama. Pelaku agama yang ngikutin tafsirannya sendiri atau ulama yang dipercaya.

Menurut saya gapapa (malah harus) mengkritisi postingan macam itu dengan akal kita sendiri. Tujuannya bukan buat sombong-sombongan atau merasa udah tau atau tau yang lebih bener. Justru karena pertanyaan-pertanyaan kritis itu kita jadi nyari jawaban yang jauh lebih valid, dgn sumber yang lebih saintifik dari sekedar postingan IG. Bukan berarti ga sami’na wa atho’na, tapi rasanya konsep sami’na wa atho’na sekarang harus beda dengan sami’na wa atho’na-nya Khadijah. Karena Khadijah istri Kanjeng Nabi, ketemu langsung dan ngobrol langsung, ya udah semestinya langsung oke apa yang dibilang Nabi. Sedang yang kita terima udah lewat banyak sekali orang dengan melewati asimilasi budaya dan pikiran yang susah dirunut silsilahnya.

Sebagai orang awwam yang ga belajar bahasa Arab dan kaidah penarikan hukum ada baiknya selalu kritis, ndak nggumunan dan panikan dengan hal baru. Boleh langsung dipertanyakan dan nyari sumber lain, pendapat lain. Apalagi yang dibaca cuman sekalimat hadis yang caption-nya muncul judgement tertentu. Jadi sami’na wa atho’na itu hasil itikad mencari ilmu yang paling ‘benar’, bukan karena kaget dan nggumun.

Sebenernya akun sosmed begitu pasti motifnya baik ya, cuma emang kadang pemahamannya kaya gitu. Takutnya sih kalau yang diposting gitu terus dan menjauhkan konsumen sosmed dari realita kehidupan, karena makin banyak realita yang ternyata menurut ‘agama’ adalah haram dan bid’ah.

Bab Sholat: II. Body Awareness

Sejak intens belajar biola akhir tahun 2013 dulu, saya latihan bisa lama banget, mungkin karena waktu itu nganggur juga sih hehehe. Bisa 7-8 jam sehari. Kayanya latihannya kurang bagus juga, maksudnya kurang efisien. Jadinya lama-lama sakit, sampe akhirnya pertengahan 2015 ngerasa beneran sakit. Dan baru mulai nyari-nyari kenapa sakit, sampai nemu web Violinist in Balance, dan jadi akrab dengan frase body awareness, kemampuan untuk mengindera apa-apa di badan kita sendiri. Merasakan anggota badan, indera, otot, bagaimana kerjanya, bagaimana geraknya, bagaimana melakukan apapun dengan lebih efisien, dsb.

Body awareness ini penting banget buat saya, ternyata banyak masalah di badan sendiri karena kurangnya kemampuan ini. Seperti pas latihan biola tapi banyak banget otot yang kaku padahal ga perlu, postur ga bagus pas jalan, pegel setelah naik motor, dll. Dengan belajar body awareness ini meskipun sekarang juga masih sering pegal-pegal tapi udah berkurang daripada dulu. Emang masih perlu belajar terus sampe mati to hehe.

Nyatanya menurut saya harusnya hal ini sesuatu yang harus dilatih dari dulu, semenjak mulai sholat. Anjuran-anjuran dalam gerakan seperti tegak ketika berdiri, meluruskan tulang punggung ketika rukuk, berdiri dari rukuk sampai semua ruas tulang belakang kembali ke tempat asalnya menunjukkan kalau kita juga harus merasakan apa yang terjadi di badan kita ketika melakukan gerakan sholat.

Rasanya hal-hal kaya gitu dalam sholat bukan cuman sebatas bersifat teknis, bukan cuman Kanjeng Nabi nunjukin gerakan sholat itu begitu. Tapi harus dieksekusi sepenuh hati, menyempurnakan berdiri bukan berarti asal berdiri tegak, nanti jadinya malah kaku karena biasanya kalau mikir terlalu teknis jadinya kaku. Sebaliknya, berdiri tegak dengan postur sesempurna mungkin tapi rileks, menempatkan tulang belakang di tempatnya tapi ga kaku. Bernafas nyantai, merasakan udara lewat saluran napas. Merilekskan leher dan punggung. Naruh tangan senyaman mungkin. Merasakan telapak kaki yang berpijak di atas lantai, menopang keseimbangan badan, kanan-kiri rata.

Begitu juga ketika berpindah ke gerakan lain, rukuk, sujud, duduk. Ngerjain gerakan pindah dan posisi-posisi itu dengan body awareness sebaik mungkin. Pastinya bakal makan waktu lebih banyak, kan emang sholat harus lama to, ada jeda waktu dalam suatu posisi selain sekedar mengeksekusi bacaan sholat, bahasa agamanya tumakninah.

Jadinya sholat bukan kerjaan yang melelahkan dan membuat badan makin pegal, tapi sebaliknya. Dan juga membuat kita makin pintar menggunakan badan kita sendiri. Memperbaiki kualitas hidup karena skill body awareness meningkat. Sekalian sholat jadi fasilitas istirahat yang bagus di sela-sela kesibukan duniawi. Seperti yang dibilang Kanjeng Nabi ke Bilal, “Istirahatkan aku dengan sholat”.