Wah, lama juga yah ga nulis-nulis di blog. Tulisan terakhir bulan Maret. Emang ke mana aja nih ga nulis-nulis lagi? Yah biasa mahasiswa sibuk (sok sibuk). Hehehe..
Nih kebetulan ada Lomba Blogging yang keren banget namanya COMPFEST 2011. Ini nih, lomba yang keren abis dah. Ada lomba programming, robotik, game design, sama lomba blogging buat pelajar n’ mahasiswa. Nah lomba semacam COMPFEST 2011 ini yang bikin anak muda terpicu buat berinovasi, memunculkan ide-ide kreatif mereka dan mengimplementasikan kepada bidangnya. Cool B-)
Ngomong-ngomong soal inovasi nih, Indonesia punya banyak banget orang-orang berbakat di bidangnya yang menghasilkan karya inovatif. Karya-karya inovatif ini tentu karya yang berguna dan bermanfaat secara luas. Karya-karya ini juga sesuai dengan kondisi yang ada di lingkungan. Karya-karya anak bangsa yang patut dibanggakan.
Mengapa harus berinovasi? Ya karena dengan berinovasi, kita akan dapat menjadi insan yang mandiri. Saya kasih contoh ya.
Zamrisyaf: Penemu Listrik Tenaga Gelombang Laut Sistem Bandulan

Bapak Zamrisyaf inilah salah satu anak bangsa yang patut dicontoh. Ceritanya, suatu malam ketika ada badai di Selat Sunda, lonceng di salah satu kapal berdentang-dentang. Nah, saat itu Pak Zamrisyaf ini sedang mencari potensi air mikrohydro sebagai energi pembangkit listrik. Melihat kejadian lonceng yang berdentang-dentang inilah beliau punya ide untuk membuat suatu pembangkit listrik bertenaga gelombang laut. Teknologi ini diberi nama PLTGL-SB (Pembangkit Listrik Tenaga Gelombang Laut Sistem Bandulan).

Menurut beliau, dalam 1 km persegi luas laut, dapat dihasilkan listrik untuk menerangi 40.000 rumah tangga sederhana dengan biaya yang relatif lebih murah dari PLTA ataupun PLTU. Selain itu : “Panjang pantai Indonesia, 81 juta km lebih, 10 persen saja dari panjang pantai itu bisa kita manfaatkan untuk pembangkit listrik, kita lebih kurang punya 61 giga watt, di Sumatera Barat, punya panjan g pantai 375 km, 10 persen saja kita manfaatkan untuk energi gelombang laut itu ada 2891 MW, potensi PLTG-SB ini 1 km 7,5 MW,kalau digunakan tidak ada pemadaman bergilir lagi,”kata Zamri. -sumber-
Nih, salah satu karya inovatif anak bangsa yang nantinya akan bisa mengatasi krisis listrik di negeri kita ini. Terbukti kan dengan suatu karya yang inovatif kita dapat memenuhi kebutuhan kita sendiri dan jadi lebih mandiri.
Tadi itu baru satu contoh saja, masih banyak contoh lain. Misalnya saja, dalam pertelekomunikasian, Pak Onno W. Purbo yang berhasil mengimplementasikan Open BTS (BTS berbasis software) yang murah meriah. Dengan Open BTS ini, orang-orang di pedalaman Indonesia bisa bertelepon dengan biaya yang sangat murah bahkan gratis. Hebat bukan. Meskipun tidak terjangkau oleh operator seluler dengan biaya pembangunan BTS yang sampai milyaran, orang akan tetap bisa berkomunikasi dengan orang lain melalui ponsel. Dengan perkiraan biaya pembangunan Open BTS yang 15-30 juta ini dapat memberikan manfaat yang besar bagi banyak orang.

Masih ada lho contoh inovasi lain. Ya sebut saja wajan bolic. Bayangkan, untuk meningkatkan jangkauan Wireless perlu antena Hi-Gain yang harganya relatif mahal. Tapi dengan kreatifitas dan inovasi dari anak bangsa, cukup digantikan dengan sebuah wajan. Solusi hebat kan?

Mau contoh lagi? Masih banyak banget deh pokoknya
Meskipun inovasi-inovasi tersebut seperti PLTGL-SB dan Open BTS belum mendapat dukungan dari pemerintah, tapi tidak menyurutkan semangat beliau-beliau itu buat tetap melanjutkan proyek mereka. Bayangkan saja, Pak Zamri pernah menghabiskan dana 40 juta untuk percobaan PLTGLnya.
Pada intinya, kita harus bekerja keras dan terus berinovasi. Di posisi kita sekarang, di bidang yang kita tekuni sekarang, pasti dibutuhkan inovasi baru. Dan inovasi inilah yang akan mengantarkan diri kita menjadi insan yang lebih mandiri. Dengan inovasi inilah, kita akan bisa membantu orang lain. Dengan inovasi inilah kita dapat memberikan manfaat pada orang lain.
Inovasi boleh saja dimulai dari hal-hal kecil. Hal-hal kecil yang memenuhi kebutuhan sebagian orang. Kalau banyak orang berinovasi, berarti banyak juga kebutuhan yang terpenuhi. Dan pada akhirnya kita pasti bisa memenuhi kebutuhan dalam skala nasional, mewujudkan Indonesia mandiri.




















